Mandegnya Tradisi Keilmuan Islam Akibat Sikap Apologetik
Oleh Muhammad Kodim/SYIRAH
Jakarta- Mandegnya tradisi keilmuan Islam lebih diakibatkan oleh sikap apologetik dalam melakukan studi Islam. Dalam konteks ini, agama dijadikan kebohongan untuk membenarkan keimanan, keyakinan pribadi dan menegasikan keyakinan-keyakinan yang di luar Islam.
Demikian yang diungkapkan oleh Ketua Yayasan Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) M. Dawan Rahardjo salah satu panelis dalam acara diskusi dengan tema “Kajian Islam di Barat: Perkembangan dan Prospeknya” Jumat, 06 Juli 2007 di Ruang Diskusi Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) jl. Kalibata Timur no.31 A.
Diskusi berseri yang sudah dilaksanakan kedelapan kalinya ini oleh LSAF mengambil tiga isu besar yaitu Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme.
Lebih jauh dalam membeberkan persoalan ini, Dawam meminjam analisisnya Swidler yang melihat agama dalam konteks lima C, yaitu: creed (aqidah), cult (ibadah), code (akhlak/budi pekerti), comunity structure (struktur masyarakat), siciety and civilization (masyarakat dan peradaban).
Mengikuti analisa ini, Dawam melihat tradisi keilmuan masih berkutat pada dua persoalan awal yaitu creed dan cult.
“Nah, tradisi keilmuan Islam masih berkutat pada dua itu. Makanya kemudian larinya pada konteks penguatan keimanan itu sendiri,” paparnya.
“Sementara tradisi keilmiahan di Barat itu berpijak pada tiga terakhir itu. Maka kemudian lebih konkrit, berguna, dan sebagainya. Pijakan-pijakan itu empiris,” lanjutnya.
Jika ingin berkemabang, kata Dawam, harus berani melampaui wilayah creed dan cult itu. “Creed dan cult itu sudahlah. Itu persoalan akidah dan ibadah,” serunya.
Kenapa harus melampaui akidah dan ibadah tersebut? Menurut Dawam, karena akidah dalam dunia Islam begitu banyak, ada Mu’tazilah, Jabariyah, Qodariyah, dan sebagainya.
“Jadi kita tidak bisa berpijak pada teologi dan akidah yang begitu banyak. Biarkan itu menjadi kewenangan yang privat. Begitupun soal ibadah, itu menjadi pilihan tiap individu,” ungkapnya.
Untuk menarik ke konteks yang lebih dekat dan kecil lagi, Dawam mencoba melihat tradisi pengajaran yang berkembang samapai saat ini di Institut Agama Islam Negeri (IAIN), atau apapun namanya.
Tradisi pengajaran di IAIN, kata Dawam, masih tidak beranjak dari kedua hal tersebut, creed dan cult.
“Maka usaha untuk mempelajari perbandingan agama di IAIN itu tradisinya masih tradisi untuk melihat keborokan-keborokan agama lain. Bukan dalam konteks bagaimana melihat agama lain itu secara empati, respek dan sebagainya,” paparnya.
Dalam konteks ini, Dawam melihat agama sebagai kebohongan untuk membenarkan keimanan, keyakinan pribadi dan menegasikan keyakinan-keyakinan yang di luar Islam.[]
Read more!
Islam Terbelakang
Sunday, July 8, 2007
Islam Mesra
Islam Tapi Mesra
Oleh Yusuf Tantowi*
Sejak dua bulan lalu, saya dengan beberapa teman menerbitkan Buletin Jumat Al-Masjid. Buletin ini dicetak sebayak 5000 eksemplar yang disebar di semua kabupaten-kota dipulau Lombok. Buletin ini kami terbitkan sebagai media pencerahan tentang berbagai isu keagamaan yang belakangan ini terjebak pada perdebatan bidah, sesat, dan kafir. Dalam konteks dialog, perdebatan seperti ini sudah tidak sehat.
Ketika pertama kali buletin ini disebar, kami mendapatkan respon yang sangat positif dari masyarakat. Indikatornya dilihat dari banyaknya permintaan dari Takmir (pengurus masjid). Bagi masyarakat, selain dibagikan secara gratis buletin ini dianggap sebagai bacaan alternatif ditengah keringnya materi khutbah yang disampaikan khotib. Materi yang disampaikan bahkan cendrung diulang-ulang.
Di Lombok Barat kami mendapatkan pengalaman penting. Seorang takmir tiba-tiba berujar kepada distributor buletin Al-Masjid. “Jangan dulu disebar disini, jangan-jangan ini buletin yang suka menyesatkan dan mengkafirkan masyarakat” cetusnya. Mendapatkan komentar seperti itu, distributor kami Lombok Barat kemudian menjelaskan maksud dan tujuan buletin jum’at ini diterbitkan. Setelah dijelaskan, ta’mir tersebut bisa menerima.
Mendengar respon takmir tersebut, kita mendapatkan gambaran bahwa munculnya klaim-klaim sesat, bidah dan kafir begitu sensitif bagi masyarakat. Bagi masyarakat desa yang sangat kukuh memegang tali kekeluargaan, klaim seperti itu bukan hal yang pamilier untuk dilakukan. Ia bisa berimplikasi tidak sehat, bahkan berpotensi menjadi triger (pemicu) pecahnya konflik komunal baru ditengah masyarakat.
Masyarakat sadar, konflik komunal sangat mudah disulut kalau itu mengatasnamakan agama. Mengenai masalah yang satu ini, kita di Indonesia khususnya Lombok sudah kenyang dengan pegalaman seperti ini. Mulai dari kasus penyerangan kampung Ahmadiyah di Gegerung, pembakaran rumah pengikut Salafi di Gunung Sari Lombok Barat, juga pembakaran masjid Salafi di Masbagek Lombok Timur.
Pengalaman serupa juga kembali saya alami ketika mengadakan workshop perdamaian di sebuah hotel berbintang di kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat beberapa waktu lalu. Worskhop ini diadakan oleh Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU ini memang dihajatkan untuk membekali dan memotivasi tokoh-tokoh agama dan ormas Islam untuk peka dan sensitif terhadap gejala konflik bermotif agama dan adat dimasyarakat.
Hari kedua kami menghadirkan fasilitator dari Jakarta, namanya Piet A Manoppo, muslim. Ia seorang aktivis penggerak perdamaian yang banyak malakukan advokasi di daerah konflik Ambon dan Maluku. Usai memperkenalkan diri secukupnya, seorang peserta yang berasal dari Lombok Timur tiba-tiba interupsi. “Sebelum kita lanjutkan, saya ingin tahu bapak agamanya apa ?” cetus pria yang sudah menyandang haji itu.
Mendengar pertanyaan seperti itu Piet A Manoppo, tampak kaget. Namun ia berusaha menyembunyikan kekagetannya. “Bagi saya agama itu tidak penting, yang penting adalah cinta dan kasih sayang. Dengan cinta semua perbedaan dan kekurangan orang lain bisa kita maknai sebagai anugrah yang patut kita syukuri. Sekarang agama sudah menjadi alat pembenar untuk mengkafir, menyesatkan bahkan membunuh orang lain. Jadi agama sudah kehilangan keistimewaannya sebagai pembawa rahmat” jelasnya panjang lebar.
Ilustrasi di atas menggambarkan kepada kita bahwa umat Islam bukan hanya mulai kehilangan kemesraan terhadap pengikut agama lain, tapi dengan sesama muslim pun kemesraan itu ternyata memudar. Pada kasus di Lombok Barat dan Lombok Timur tadi mayoritas menjadi ancaman bagi minoritas. Di sini mayoritas telah menjadi penentu kebenaran bagi bagi kelompok minoritas.
Berbarengan dengan itu saya juga melihat mengerasnya konservatisme beragama. Model beragama seperti ini harus diwaspadai karena menjadi kekuatan imperialisme yang merampas kebebasan individu dalam menyatakan dan menikmati kebebasannya. Pada hal kebebasan adalah anugrah yang paling esensial yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia.
Belakangan pekerjaan besar umat Islam ialah menjelaskan kembali kepada publik bahwa Islam agama cinta damai. Islam juga mengharamkan segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan atas nama agama. Namun akibat ulah segelintir orang yang mengaku Islam, wajah Islam kini tidak lagi bersahabat bahkan nampak menyeramkan. Citra seperti tentu merugikan bagi umat Islam. Di negara-negara Barat Islam bahkan begitu dicurigai.
Kondisi di atas tentu memprihatinkan kita semua, termasuk tokoh-tokoh agama. Bentuk keprihatinan itu kemudian diwujudkan dengan terus mewacanakan pentingnya pluralisme beragama kepada masyarakat. Pluralisme yang dimaksud, bukan memposisikan semua agama sama tapi mengakui kebenaran lain di luar kebenaran yang kita yakini.
Yang paling strategis, pluralisme bertujuan meningkatkan kualitas kemesraan semua umat beragama. Melalui pluralisme umat beragama diajak untuk tersenyum dengan perbedaan. Meski tersenyum adalah perkara biasa tapi ia bisa menjebatani lahirnya ruang dialog yang sehat, terbuka dan tidak kaku menyikapi perbedaan.
Ini penting disemai sejak dini agar senyum tidak menjadi kekayaan yang hilang seperti yang ditakutkan oleh ‘resi manajemen’ asal Bali Gede Prama.Untuk merawat senyum dan kemesraan umat perlu ditumbuhkan kesadaran plural. Jika kesadaran plural ini tumbuh dibenak masyarakat beragama maka akan lahir harmoni serta energi kebersamaan yang semakin erat. Untuk itu semua ormas Islam juga bertanggungjawab mengkampanyekan Islam moderat kepada jamaahnya.
Islam yang mesra bukan berarti lemes dan lembek. Islam yang mesra justru dapat menerima perbedaan dan kekurangan masing-masing sebagai fakta sosial yang patut dihormati. Maka setiap yang merusak harmoni di tengah umat bagian dari musuh umat beragama. Puncaknya kita bersedia bermuamalah dengan aliran dan agama lain secara mesra. Jika Islam masih kita anggap bisa memberikan solusi terhadap berbagai problem umat, pilihannya tidak lain yaitu menyuarakan pesan agama yang sejuk dan menentramkan. Islam tapi Mesra!
*AKTIFIS JARINGAN ISLAM KAMPUS (JARIK) MATARAM DAN MASIH MENEMPUH STUDI DI IAIN MATARAM
Read more!
Kontroversi
Memahami Kontroversi AL-Ghazali dan Ibnu Sina dengan Konsep Ketuhanan Al-’Arobi
Oleh Subhan Agung*
Tulisan ini diilhami ketika saya mendengarkan diskusi dua orang mahasiswa –kayaknya aktivis gerakan-- di Perputakaan Pusat Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), di mana salah satu di antara mereka bersikukuh mengeluarkan segudang argumennya untuk memojokkan Ibnu Sina—Bapak Ilmu Kedokteran Islam--.Kata-kata yang saya masih ingat dari satu di antara mereka adalah: ”eh, saya tadi baru baca buku terjemahan Imam Al-Ghazali lo, eh ternyata Ibnu Sina tokoh pemikir Islam itu, katanya sesat lo!, dia menafi’kan Tuhan dalam penciptaan alam semesta....” yang satu lagi jawab : ”masa sich ?”.
Untuk memahami kontroversi dalam dialog di atas, saya awali tinjauan ini dari pendapatnya Syaikhul Akbar Ibn ’Arabi dalam Mystical Dimension of Islam (Annemarie Schimmel, 1975:267-268) yang membagi Tuhan dalam dua level (wajah) : Dzat dan sifat. Penjelasan ini sangatlah minim difahami oleh sebagian besar kaum muslim.
Pertama, Tuhan berada pada level Dzat ketika kita merujuk Tuhan pada diri-Nya, terlepas dari kaitannya dengan apapun. Bagaimanapun juga, Tuhan dalam level ini tidak bisa kita kenal, karena manusia hanya bisa memahami sesuatu (’ain), sedangkan Tuhan pada level ini bukanlah sesuatu (ghair muta’ayyan). Jalan satu-satunya yang paling tepat untuk menggambarkan Tuhan pada level ini adalah Dia tidaklah menyerupai apapun (laisa kamitslihi saiy’). Pendekatan ini biasa dalam terminologi filsafat agama disebut teologi negatif (via negativa), di mana pada level ini tidak ada kata apapun yang mampu mendeskripsikan Tuhan, karena sudah bisa dipastikan tidak akan sama dengan-Nya. Bahkan pada level ini bisa dikatakan Tuhan tidak memiliki sifat apapun, karena tidak ada satu sifat pun yang bisa dinyatakan secara positif. Dari sini kita mulai memahami tentang pandangan para filosof muslim dan kaum mu’tazilah yang cenderung menghapus sifat apapun dari Tuhan (nafi-al shifat).
Kedua, Tuhan pada level nama atau sifat. Berbeda dengan level pertama, di mana pada level ini Tuhan telah kita kenal secara positif, karena Tuhan telah menjadi sesuatu (ta’ayyun). Nama-nama dan sifat-sifat Tuhan muncul, karena hubungan-Nya dengan alam, sedangkan dalam konteks dirinya sendiri, Tuhan seperti dikatakan di atas, tidak memiliki sifat apa-apa. Diperkenalkannya sifat-sifat dan nama-nama Tuhan dalam kitab suci, tidak lain dari upaya Tuhan untuk memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk-Nya, terutama manusia.[1]
Bagi saya konsep Tuhan di atas sangat berguna dalam memahami konsep teologis maupun filosofis yang dikembangkan masing-masing teolog dan filasuf. Konsep Tuhan yang kita kenal pada umumnya adalah konsep telogis, seperti pada percakapan di atas ---yang disebarluaskan oleh Al-Ghazali--, yakni sifat-sifat tertentu dari Tuhan dipandang secara positif, misalnya hidup, kuasa, ilmu dan berkehendak[2]. Para mutakallimuun (ahli kalam) dan juga para sufi pada umumnya memiliki kesamaan, mereka membenarkan adanya sifat-sifat Tuhan di samping Dzat-Nya[3]. Sedangkan mean-stream para filosof dan mu’tazilah menolaknya.
Untuk menggambarkan perbedaan pandangan tersebut, kita tinjau perdebatan Imam Al-Ghazali dan Ibnu Sina, dua tokoh yang bisa dijadikan representasi dari kelompok teolog da filosof Islam. Dalam kitab Tahafut al-Falasifah misalnya, Al-Ghazali mengkritik pandangan Ibnu Sina yang mengatakan bahwa ; ”penciptaan alam tidak didasarkan pada kehendak Tuhan, melainkan keniscayaan atau logis”[4].
Pandangan Ibnu Sina di atas menurut Imam Al-Ghazali, sebagai teolog, jelas-jelas bertentangan dengan Al-qur’an, yang berulang-ulang menyatakan bahwa Tuhan berkehendak, seperti misalnya dalam surah Yaasin ayat 82 : ”apabila Dia menghendaki sesuatu hanya (dengan) berkata kepadanya, ”Jadilah!”, maka terjadilah ia”. Hal ini menjelaskan bahwa penciptaan sesuatu, termasuk dunia ini, bersandar pada kehendak (iradah) Tuhan.
Sungguh sesuatu yang mengherankan ketika Ibnu Sina mempunyai konsep yang bertentangan dengan Al-Qur’an. Dugaan Ibnu Sina tidak mengetahui ayat-ayat tersebut dalam Al-Qur’an jelas sangat meleset, karena dalam banyak literatur diinformasikan bahwa Ibnu Sina,--ilmuwan dan filosof yang disebut-sebut menjadi inspirator dunia Barat di bidang kedokteran lewat karya Al-Qonuun fi Al-thibb ini-- telah hafal Qur’an sejak usia sepuluh tahun dan telah menulis tafsir Al-Qur’an pada usia 25 tahun[5]. Kalau kita menggunakan perspektif filosofis Ibnu ’Arobi tentang konsep Tuhan, jelas pemikiran Ibnu Sina ini bisa dijelaskan. Pertentangan keduanya disebabkan perbedaan level Tuhan yang mereka konsepsikan.
Harun Nasution dalam Teologi Islam (1997;20) menulis bahwa para Filosof, termasuk Ibnu Sina, ketika berbicara Tuhan —tidak berkehendak— yang mereka maksud adalah Tuhan dalam level Dzat, yang memang telah mereka bersihkan dari segala sifat yang positif. Bagi mereka, sebagaimana juga kaum Mu’tazilah, sifat-sifat Tuhan yang dijabarkan Al-Qur’an tidak bisa dikatakan berbeda dan terpisah dari Dzat-Nya, tetapi sama dan satu. Sedangkan Tuhan yang dikonsepsikan para teolog, termasuk Al-Ghazali –dianuti kaum Asy’ariyyah, dan kaum Muslimiin saat ini—pada umumnya pada level sifat dan nama. Oleh karena itu, konsep dari kedua pemikir itu tidak pernah bertemu.
Boleh dikatakan bahwa ketika Syaikhul Islam Al-Ghazali ketika mengkritik konsep Tuhan Ibnu Sina, beliau tidak bicara pada level yang sama dengan Ibnu Sina. Oleh karena itu, tidak ada ketersambungan jalan, karena beranjak dari dua konsepsi Tuhan yang berbeda, jadi persoalannya bukan siapa yang kurang faham tentang Islam, karena keduanyapun pemikir yang sudah terpercaya dan dikenal memiliki keluasan ilmu pengetahuan dan ke-Islaman. Dari perdebatan itu pula, sebenarnya tidak ada yang kalah, dan tidak ada yang menang, karena bagi mereka, sesuatu yang sudah menjadi sikap dan pemikirannya sudah berdasarkan olah pikir dan kecerdasan masing-masing. Jika dalam kenyataannya Al-Ghazali memenangkan pengaruh yang besar, itu disebabkan oleh pemahaman mayoritas muslim yang lebih bersifat teologis ketimbang filosofis.
”Qoolu subhaana kaala ’ilmalanaa illa ma ’allamtana innaka ’allimul hakiim”. Wallahu a’lam.
***
Subhan Agung, Kabid. Perkaderan HMI Cabang Purwokerto tahun 2003-2004, mahasiswa Jurusan Ilmu Politik, Fisip Unsoed.
[1]Untuk mencontohkan hal ini misalnya dalam hadits qudsi yang berbunyi : “ kuntu kanzan makhfiyyan” fa’ahbabtu an’u’raf, fakhalaqtu al-khalq fabi arafini”, maksudnya “ Tuhan berada dalam ‘persembunyiannya’, Dia ingin dikenal, dan arena itu Dia menciptakan alam raya ini, agar melalui alam ini manusia bisa mengenal-Nya.
[2]Biasanya di surau-surai atau diniyah waktu Sekolah dasar atau Ibtidaiyah diajarkan ada 20 sifat Allah atau bahkan ada yang mengatakannya 13 sifat, yang kesemuanya memiliki kandungan yang sama dari mulai wujud sampai hayyat.
[3]Memang ada sedikit perbedaan di mana kaum mutakallim melihat bahwa manusia berbeda dengan Tuhan, baik dari sudut sifat maupun Dzat, mereka hanya mengenal tanzih (perbedaan) dan tidak mengakui keserupaan (tasybih), sedangkan bagi para sufi manusia memiliki bukan saja tanzih, melainkan juga tasybih dari sudut sifat.
[4]Dalam Majid Fachry, Sejarah Filsafat Islam, hal.225.
[5]lihat ibid, hal. 129
Read more!
Agama Publik
Menemukan Agama Publik Kontekstual
Oleh Bahrul Haq Al-Amin
Indonesia berdiri di atas landasan filosofis-historis sebagai negeri beragama. Dimensi teologis-metafisis ini begitu mendominasi perjalanan bangsa, sejak awal terbentuknya bahkan hingga saat ini; dari masa feodalisme, imperialisme, otoritarianisme hingga masa demokrasi. Agama-agama menjadi motor utama perubahan sosial-politik bangsa Indonesia. Dari sisi ini, keberagamaan bangsa Indonesia menyimpan potensi besar dalam pembentukan modal sosial yang memadai untuk menjamin berlangsungnya demoratisasi.
Di sisi lain, sejak lama keberagamaan selalu menghadapi dilema tersendiri saat berhadapan dengan realitas keragaman di Indonesia. Keragaman yang tersebar merata di lebih dari 200 juta penduduk, lebih dari 300 bahasa/suku, 13 ribu pulau dan negara terkaya dalam keanekaregaman hayati. Sebagai contoh, agama yang diakui legalitasnya oleh negara hingga saat ini hanya enam buah; Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Konghucu. Padahal, bangsa Indonesia memiliki ragam ekspresi keberagamaan yang sangat beragam. Sayangnya, mereka adalah kaum-kaum minoritas yang kurang terdengar suaranya di pentas nasional.
Alih-alih mendapatkan pengakuan – mereka kaum minoritas seperti Islam Kejawen dan Islam Sasak – kepercayaan mereka malah dipahami secara sepihak sebagai sebentuk sinkretisme belaka. Aliran lainnya – seperti Komunitas Lia Eden di Jakarta, Pengikut Shalat dua bahasa Ust. Usman Roy di Malang dan Jemaat Ahmadiyah di Parung – justru dicap sebagai sesat dan menyesatkan. Secara prinsipil, hal ini tentu saja bisa berarti sebentuk pelanggaran terhadap prinsip hak kebebasan beragama, seperti yang tercantum dalam Undang-undang Dasar, Declaration of Human Rights dan Convenant on Civil and Political Rights. Bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berganti agama atau kepercayaan dan kebebasan untuk menyatakan agama atau kepercayaannya denga cara mengajarkannya, melakukannya, beribadat dan menepatinya, baik sendiri maupun bersama-sama, baik di tempat umum maupun yang tersendiri. Tak seorang pun dapat dikenakan paksaan sehingga mengakibatkan terganggunya kebebasan untuk memeluk atau menerima agama atau kepercayaan pilihannya. (Budiardjo, 2005)
Masalah lain seputar keberagaman di tengah keragaman adalah konflik-konflik bernuansa etno-religius di berbagai tempat di Indonesia; seperti yang terjadi di Poso, Parung, dan masih banyak lagi. Masalah yang seperti ini tentu tidak pernah kita harapkan terjadi. Selain kerugian materiil dan jiwa, korban paling menderita dari konflik sosial ini adalah kaum perempuan dan anak-anak.
Mereka adalah golongan yang menjadi sasaran utama pelampiasan konflik-konflik etno-religius. Hal yang sungguh sangat memilukan.
Pada konteks keberagamaan di Indonesia saat ini, permasalahan di atas tampaknya malah semakin rumit. Isu-isu radikalisasi agama seperti Romantisme Khilafah Islamiyah, usaha penegakan Syariat Islam, perda-perda bernuansa Syariat, sweeping tempat-tempat hiburan dan masih banyak lagi, menjadi tema sehari-hari yang tidak lagi dianggap sensitif. Alih-alih dikonsumsi secara massif.
Diskursus Agama Publik
Gagasan agama publik (publik religion) sebenarnya adalah rekasi terhadap sekularisasi agama, di mana agama telah mengalami sekularisasi dan privatisasi, namun doktrin sosial agama ingin dihidupkan kembali, agar agama mempunyai peran dalam wacana publik, nasional maupun global. Diskursus agama publik berupaya menemukan kebenaran obyektif dari ajaran atau konsep agama-agama yang ada yang bersifat profan. Dalam teorinya, unsur-unsur dari suatu agama dapat saja diintegrasikan ke dalam salah satu ajaran dari agama lain yang telah dianggap sebagai agama publik, sepanjang tidak menyangkut akidah yang mensyaratkan keimanan. (www.islamlib.com)
Dari uraian tentang keberagamaan dan permasalahannya di atas, kita dapat saksikan bahwa Indonesia terdiri dari beberapa agama dan kepercayaan. Agama dan kepercayaan ini, tentu saja masing-masing meyakini adanya konsep keselamatan dan berbuat kebaikan buat sesama manusia.
Nilai-nilai, ajaran dan konsep universal dari agama-agama inilah yang bisa ditransformasikan menjadi sebentuk agama publik.
Contoh dari agama publik yang saat ini telah berlaku yakni Ekonomi Syariah. Ekonomi Syariah saat ini dilaksanakan oleh bank-bank multi nasional. Bank-bank ini bukannya percaya kepada kebenaran Al-Qurán, tetapi pada cermin keadilan dalam ekonomi syariah. Tentu saja masih banyak bentuk-bentuk agama publik lainnya yang bisa ditemukan dari agama dan kepercayaan di Indonesia, seperti tradisi doa bersama atau doa antar iman, ucapan selamat hari-hari raya, dan sebagainya.
Hal yang penting harus diperhatikan dalam agama publik ini adalah sisi kontekstualitasnya. Tantangan problem keberagamaan seperti yang diuraikan di awal perlu mendapat perhatian serius. Dalam hal ini, usaha menemukan agama publik ini harus juga ditopang oleh komitmen pemerintah, golongan agamawan, serta masyarakat sipil. Adanya political will – meski tidak cukup sebagai jaminan – tentu diharapkan mewarnai usaha penemuan agama publik.
Konteks rejim demokratis saat ini menuntut adanya pengertian dan usaha yang signifikan dari agama-agama agar menerima konsep-konsep HAM, civil society, jaminan hukum, social capital, open society, kesetaraan gender, kedaulatan rakyat, otonomi daerah dan sebagainya. Agama publik bertugas melegitimasi konsepsi demokrasi beserta turunan-turunannya. Agama publik mesti mengkaji ulang ajaran-ajaran usang yang tidak mampu melakukan pendekatan dalam memahami konsep-konsep ini. Hal ini tentu tidaklah mudah. Salah satu contohnya adalah pendekatan untuk memahami kedaulatan rakyat (vox populi) terbentur dengan keyakinan akan kedaulatan Tuhan (vox dei).
Agama publik juga diharapkan dapat melakukan delegitimasi atas fundamentalis-radikal yang terlalu memaksakan kehendak dan kepercayaan sendiri di atas fondasi kekuasaan, kekerasan dan mayoritas. Hal ini sesuai dengan konteks semakin marak dan berbahayanya kekerasan atas nama agama, baik
dengan melalui instrumen negara maupun secara frontal-horizontal antar masyarakat.
Menyelamatkan Demokrasi
Diskursus agama publik dan usaha menemukannya bisa dikatakan dilakukan atas nama menyelamatkan demokrasi Indonesia. Jujur saja, survival demokrasi tidak bisa benar-benar terjamin jika masih banyak problem-problem keberagamaan yang terjadi. Pembangunan demokrasi menjadi terhambat dan terlalu dipusingkan dengan mengurusi konflik-konflik berbasis agama.
Agama publik, dengan demikian, diupayakan sebagai penengah di tengah-tengah potensi kekerasan antar agama. Diskursus agama publik ini ingin mengembalikan agama-agama kembali pada makna asalnya; yakni “tidak kacau”. Agama publik diharapkan dapat menenangkan masyarakat akibat isu terorisme yang kembali massif dipublikasikan di media massa.
Upaya menemukan agama publik sungguh terasa penting karena tema-tema pencerahan lainnya, seperti sekularisme atau sekularisasi, mendapatkan penolakan yang cukup keras dari beberapa otoritas agama beserta para pengikutnya. Agama publik mengisi ruang yagn ditinggalkan oleh sekularisme dan sekularisasi, yakni formalisasi unsur-unsur keagamaan dalam level kenegaraan, tanpa melakukan pembenaran dan pemihakan pada salah satu agama atau kepercayaan. Dengan begitu, demokrasi bisa tetap terselamatkan tanpa mengganggu keberagamaan dan keragaman bangsa Indonesia.
*Bahrul Haq Al-Amin, lahir di Ciamis, Jawa Barat, 27 September 1985. Mahasiswa tingkat akhir (S-1) Program Studi Pemikiran Politik Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Peneliti pada Lembaga Studi Agama Filsafat (LSAF) di Jakarta dan Lingkar Studi Epistema HMI Cabang Jakarta Selatan. Aktifis di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan saat ini menjabat Ketua Umum Panitia Kongres 26 Pengurus Besar HMI, Agustus 2007 di Jakarta. Aktif juga di Jaringan Islam Kampus (JARIK) Jakarta, Komite Mahasiswa Anti Imperialisme (KMAI) dan Lingkar Studi-Aksi Demokrasi Indonesia (LS-ADI) Jakarta. Ikut mendirikan beberapa jurnal, seperti Jurnal Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Jurnal Humania HMI Cabang Jakarta Selatan. Menjadi kontributor tulisan di www.hminews.com, www.banjar.go.id, Jurnal Humania HMI Cabang Jakarta Selatan, Jurnal Epistema HMI Cabang Jakarta Selatan, dan beberapa buletin kecil Komisarait HMI. Alamat: Jln. Nurul Huda No. 35, Rt/Rw. 04/01, Kampung Utan, Cempaka Putih, Ciputat, Tangerang 15412. email: bahrulhaq@yahoo.co.id. Telp: 021-74701701.
Read more!
Mas Dawam
Wednesday, July 4, 2007
Pluralisme: Hidup Damai Milik Dawam Rahardjo
oleh Isyana Artharini
PADA perayaan ulang tahun ke-65, Dawam Rahardjo keluar dari ruang kesepiannya setelah teman-teman lama menjauhinya. Mengenakan peci hitam dan setelan jas abu-abu, ia menyambangi teman-teman barunya.
Ulang tahun Dawam dirayakan bersamaan dengan peluncuran buku berjudul Demi Toleransi, Demi Pluralisme, di aula Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, Jumat (4/5) malam.
''Ternyata teman saya masih banyak, karena akhir-akhir ini saya merasa ditinggalkan oleh teman-teman lama saya,'' kata Dawam di sela perayaan ulang tahunnya.
Buku sebagai hadiah ulang tahun telah diedit oleh kawan-kawannya, Ihsan Ali-Fauzi, Syafiq Hasyimm, dan JH Lamardy. Buku itu memberi kesan bahwa para kolega dan sahabatnya masih setia dengan pemikiran dan gerak aktivitas, serta esai-esai Dawam.
Keistimewaan buku itu ditulis oleh 31 orang, antara lain Ahmad Syafii Maarif, BJ Habibie, Siti Musdah Mulia, Franz Magnis Suseno, Komaruddin Hidayat, Didik J Rachbini, Nono Anwar Makarim, dan Daniel Dhakidae.
Ada yang istimewa bagi mantan Rektor Unisma Bekasi kelahiran Kampung Baluwarti, Solo, 20 April 1942, dalam pesta ulang tahunnya itu. Malam itu ikut hadir juga teman-teman 'terbaru' Dawam, dari Komunitas Eden. Komunitas itu melalui salah seorang juru bicaranya menyatakan hanya Dawam satu-satunya orang yang bersedia dialog dan bertanya tentang kepercayaan mereka.
Dawam pun ikut terlibat dalam diskusi-diskusi panjang untuk mencoba memahami ajaran Eden. Ia juga menyerukan untuk membela Ahmadiyah, sebuah sikap yang berseberangan dengan kawan-kawannya.
''Semua itu atas nama toleransi dan pluralisme. Saya tidak peduli dikatakan orang. Dibilang Komunitas Eden, enggak apa-apa. Ahmadiyah, enggak apa-apa. NU juga enggak apa-apa. Asal jangan bilang saya Muhammadiyah,'' kata Dawam disambut tawa hadirin.
Pluralisme, baginya, menjadi sebuah jalan menuju kedamaian. Ia mengaku, saat menjadi seorang yang belum toleran, ia harus terus-menerus membenci dan menolak segala sesuatunya yang berbeda darinya. Ia harus terus penuh dengan rasa marah. ''Tapi sekarang saya dapat kasih sayang lebih banyak. Ancaman yang saya terima malah berkurang,'' katanya lagi.
Toleransi, juga menjadi kata kunci menuju kedamaian. Namun baginya yang lebih penting lagi adalah kunci menuju kemajuan. Tanpa toleransi, tidak mungkin Islam akan menjadi maju. ''Toleransi tidak berarti lemah. Saya malah lebih bisa memahami akidah saya dengan lebih baik,'' ujar Dawam.
Dawam yakin kebenaran ada di mana-mana. Kebenaran bisa ditemukan di berbagai kitab suci. Ia pun pernah memberikan nasihat kepada Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra tentang toleransi. ''Seseorang tidak akan bisa menjadi intelektual sempurna jika ia masih apriori dengan marxisme.''
Teman-temannya yang hadir seperti Utomo Dananjaya, Daniel Dhakidae, Siti Musdah Mulia, dan M Syafi'i Anwar pun memuji langkah intelektual Dawam yang berani menunjukkan jati dirinya.
Mereka menilai Dawam sebagai seorang intelektual yang telah melakukan pembelaan bagi rakyat dan mengedepankan keadilan. Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP) Jakarta M Syafi'i Anwar menambahkan mengutip pendapat Bung Hatta, intelektual harus memiliki kepribadian moral, kepedulian sosial, dan melakukan pembelaan terhadap rakyat.
''Beliau telah memenuhi persyaratan itu dengan menunjukkan identitas dan jati dirinya saat melakukan pembelaan terhadap kelompok-kelompok yang dipinggirkan.''
Selamat ulang tahun Pak Dawam. (Isyana Artharini/H-3)
Sumber: Media Indonesia, Minggu, 6 Mei 2007
Read more!
Sisi Lain Pecel
Karsih, Penjual Pecel Yang Dilestarikan
Oleh Saiful Rahman Barito*
Di sela-sela pekerjaan, saya menyempatkan diri untuk menonton Empat Mata. Biasa, sekaligus rileksasi sebentar untuk mengendorkan urat-urat syaraf yang sedang tegang. Memang setiap kali menonton Empat Mata, saya tidak berharap lebih daripada beberapa informasi dan hiburan. Tentu, tanpa menafikan beberapa hal yang memang bermanfaat selain menertawakan diri sendiri. Juga, tidak lupa memberikan beberapa catatan penting.
Seperti biasa, bintang tamu rata-rata adalah para tokoh, artis, kalangan seleb. Kadang-kadang juga diundang beberapa kalangan bawah dengan berbagai macam tipenya jika sesuai dengan tema yang sedang diangkat. Pada malam ini, selain Djaenar Maesa Ayu, Indra Herlambang, dan Topan, ada seorang penjual pecel gendong yang menjadi tamu Empat Mata.
Tema yang diangkat cukup bagus, yaitu tentang makanan tradisional. Mungkin tepatnya adalah makanan yang dijual rakyat kecil. Di dalam konteks globalisasi dan mental hedonis yang menyentak kehidupan rakyat ini, pembicaraan tentang tema ini sedikit demi sedikit akan memasuki arena pertempuran makanan impor dan makanan lokal. Di persempit lagi ke dalam konteks kapitalisme, maka arenanya adalah pertempuran makanan orang kecil dan makanan kaum kapital.
Secara umum, penalaran kita mengantarkan kepada kekuatiran terhadap punahnya makanan lokal rakyat kecil, sesuai dengan kaidah pihak yang kuat akan unggul di atas pihak yang lemah. Begitulah cara kita berpikir yang menurut saya terlalu materialistik. Kekuatan dan kelemahan selalu kita ukur dalam bentuk seperti itu. Saya tidak menafikannya, hanya menegaskan bahwa tidak selamanya harus diukur seperti itu.
Bukan tidak mungkin bahwa orang sekelas Karsih ini justru kekuatan yang menopang ekonomi rakyat. Sementara kaum kapital akan tidak berdaya dengan kapital mereka jika orang-orang sekelas ini tidak ada lagi di dunia. Inilah rahasia siklus dan mata rantai kehidupan yang telah ditetapkan oleh Allah. Barangkali karena inilah kenapa Indra Herlambang berpandangan bahwa orang seperti Karsih ini harus dilestarikan.
Entah! Apakah maksudnya tipe kehidupannya atau makanannya. Namun, jelas itu adalah dua unsur yang saling terkait. Bagi saya, Karsih adalah fenomena manusia yang tulus menjalani kehidupan, tegar, bermental kuat, dan tetap semangat. Saya yakin, orang sepertinya lebih terhormat daripada kaum berdasi yang duduk di kursi dewan, misalnya, atau pejabat-pejabat negara yang menaiki mobil mewah.
Keinginan untuk tetap hidup dengan cara yang halal, meskipun sedikit, jelas lebih baik daripada keinginan tetap hidup dengan cara yang haram. Nilai-nilai yang terkandung di dalam mental orang-orang seperti Karsih inilah, menurut saya, yang patut dilestarikan; selain pecelnya, mungkin.
Namun, jika dari sudut pandang lain bahwa orang-orang seperti dia ini saja di Indonesia sangat banyak berada di garis kemiskinan dan perjuangan susah payah, maka apa yang dilestarikan? Teman saya yang kebetulan menonton Empat Mata juga berkomentar, “Orang yang seperti ini di Jakarta mungkin masih puluhan ribu jumlahnya.” Dia membandingkan dengan negara lain yang maju.
Kesimpulan yang bisa saya ambil dari komentarnya ini: seharusnya mereka diberdayakan untuk lebih maju dengan program-program yang nyata dan jujur, bukan eksploitasi. Itu bisa saja dilakukan tanpa melepaskan nilai-nilai baik yang terdapat di dalam diri mereka dan makanan lokal tradisionalnya.
Jadi, pelestarian yang dimaksud tentunya adalah meningkatkan kehidupan mereka sehingga terlahir dari lingkup mereka manusia-manusia yang lebih maju, dengan tetap memperhatikan nilai-nilai kebaikannya. Bukan membiarkan mereka dalam garis kehidupan yang sulit untuk selamanya.
*Alumnus Universitas Alazhar Kairo
Read more!
Kata
Dunia Tanpa Kata
Oleh Shinta
Bagaimana kamu akan berkata selamat tinggal
Kepada seseorang yang tidak pernah kamu miliki?
Kenapa tetes airmata jatuh demi seseorang
Yang tak pernah menjadi kepunyaanmu?
Kenapa kamu mencintai seseorang
yang cintanya tak pernah untukmu?
Bukankah letak kebahagiaan itu ada pada diri kita?
yang gagah, yang lemah, yang kuat, yang tak berdaya...
apakah telah kamu temukan apa yang menjadi letak dari keresahanmu selama ini?
kukira, dengan semakin bertambahnya usiaku, aku kan bijaksana dan teringat kealpaan diri.
tapi ternyata aku salah.
bukan karena bertambahnya umur kita akan bijak, tetapi bagaimana cara kita menyikapi hidup.
tidak ada yang benar atau yang salah.
karena hakikat hidup, adalah proses untuk hidup itu sendiri.
"hidup" bagi diri sendiri dan orang lain....
Aku tak ingin berkata cinta
sebab aku ingin memberi cinta
sebab cinta yang berkata adalah
bukan cinta yang sebenarnya
dan cinta yang terbukti adalah
cinta yang sejati....
One day... if i could fight against the world, i will take you in my heart and let them know that i really wanna you to be the last one i ever had..
*Aktivis JarIK Bandung dan kuliah di jurusan Sastra Prancis Universitas Padjadjaran (UNpad) Bandung
Read more!
Dialog Imaginer
Wawancara Imaginer bersama Sayiddina Umar Ibnu Khattab Ra.
Kebebasan beragama hari ini menjadi slilit sosial yang tak kunjung habis. Persoalan pengkafiran masih menjadi kicauan basi orang-orang yang mengaku sebagai pembela agama Tuhan. Absahkah hal ini? Berikut wawancara imajiner saya dengan Sayyidina Ummar Ibnu Khattab, Khulafa’ur Rasyidin yang terkenal menjadi pencetus ijtihad dalam Islam itu.
Oleh Achmad Jumaely
Bagaimana anda melihat Ummat Islam hari ini?
Menyedihkan! Itu jawaban saya. Ummat terlihat kacau-balau tak menentu. Kalau dulu ummat berselisih karena persoalan akidah dan Alqur’an sekarang lebih kompleks lagi, karena persoalan politik, sosial dan ekonomi. Baru-baru ini saya mendengar antara Sunni dan Syi’ah di Irak berselisih hingga menghilangkan banyak nyawa ummat Islam. Saya menangis mendengar hal ini.
Jadi bukan persoalan akidah sebenarnya?
Bukan! Saya kira itu murni persoalan politik. Setelah Amerika yang jahat itu menyerang Irak, benih-benih permusuhan karena persaingan politik mulai muncul di situ. Sebelumnya antara Syi’ah dan Sunni baik-baik saja tuch. Bahkan anda tahu sendiri beberapa tempat suci dimiliki secara bersama-sama dan di ziarahi juga bersama-sama.
Anda juga mendengar kehidupan ummat Islam Indonesia?
Iya, saya mendengar ummat Islam di Indonesia tak kalah kacaunya. Di tempat itu jumlah ummat Islam banyak, tapi seperti sabda nabi itu, mereka bak buih di lautan, terombang- ambing tak terarah dan akhirnya jadi abu-abu. Banyak kepentingan politik ekonomi internasional yang bermain di negara itu.
Maksud anda?
Iya, politik ekonomi global. Tidak hanya Amerika, tapi juga Saudi Arabia. Sebetulnya dua negara itu sama-sama kapitalis. Saudi kapitalis dengan sistem ekonomi -yang katanya- Islam itu, dan Amerika jelas dengan sistem ekonomi liberalnya. Sialnya lagi, dua negara ini ternyata tidak hanya memasok pasar ekonomi tapi juga ideologi. Kata ketua perhimpunan ulama di negeri itu, namanya Hasyim Muzadi, mereka itu membawa ideologi transnasional. Saudi dengan Wahabismenya dan Amerika dengan Liberalisme dan Sekularismenya.
Ada persoalan global sekarang ini, persoalan krisis kebebasan beragama. Karena di beberapa negara, dengan alasan membela agama (tuhan) mereka mengganggu eksistensi komunitas beragama lain, Bagaimana menurut anda?
Nah, persoalan kebebasan beragama ini memang sealu menjadi masalah setiap abad. Tapi sungguh kalau menurut saya ini bukan persoalan akidah, tapi persoalan kekuasaan, politik dan ekonomi. Sebagai bukti, tidak adanya kebebasan beragama selalu dimulai dari represifitas negara. Ketika negara terlalu campur tangan pada urusan private warganya termasuk agama, maka yang terjadi sesungguhnya represifitas atau kekerasan yuridis.
Jika anda baca sejarah dinasti-dinasti itu, semuanya karena persoalan yang sama. Soal agama terlalu banyak dicampuri negara. Yang terjadi akhirnya adalah adanya tirani kuasa mayoritas. Persisnya begini, yang beragama tapi tidak sehaluan dengan agama negara ditindas, didiskriminasi, dikucilkan dan seterusnya.
Sebetulnya bagaimana islam memandang kebebasan beragama?
Sudah jelas, dalam Alqur’an Allah berfirman “Andaikata kami mau, maka kami bisa membuat ummat manusia di muka bumi ini Islam semua, tapi sengaja kami tidak inginkan itu. Kami berikan kebebasan kepada mereka untuk menjadi mu’min dan menjadi kafir. Terserah mereka. Tapi yang kafir tentu saja akan berada di neraka yang dikelilingi api”. Nah..kalau kita baca firman Allah ini, jelas sekali. Allah saja memberikan kebebasan bagi semua manusia untuk beriman atau tidak beriman, lalu kenapa kita melebihi otoritas tuhan, memaksa orang lain untuk mmeluk Islam. Sombong sekali mereka, padahal di ayat lain suah dikatakan Allah. La Ikraha Fi Addin (tidak ada paksaan dalam beragama).[]
*Penulis adalah Koor JarIK Mataram
Read more!