Warga-Aliran Jubir Saling Serang, Belasan Luka
Oleh Admin
MEDAN- Baru saja tuntas masalah aliran Al Qiyadah Al Islamiyah, kini di Sumatera Utara (Sumut) tepatnya di Belawan muncul aliran baru. Aliran itu membuat berang karena pemimpin aliran itu, Jubir, diduga mengubah kalimat syahadat dan memasukkan namanya menggantikan Nabi Muhammad SAW.
Informasi yang dihimpun koran ini, diduga lafadz syahadat diubah pada kalimat kedua setelah Asyhaduallaa ilaha ilallah, yaitu Ashaduannamuhammadarrosulullah diganti menjadi Ashaduannajubirrasulullah.
Menurut informasi, jumlah pengikut tersebut berjumlah 40 orang. Aliran itu sudah berlangsung sekitar dua tahun dan berpusat di Kelurahan Bagan Deli. Tepatnya di pinggir jalan menuju UPT (Unit Pelayanan Terminal) Peti Kemas Pelabuhan Belawan.
Markas kelompok itu terbuat dari triplek dan berwarna hijau. Saat ini, pondok itu diberi police line.
Dari data yang didapat, puluhan orang luka-luka akibat bentrokan di Desa Bagan Deli (Gabion) Belawan, Deli Serdang, Senin (21/1) sekitar pukul 22.00 WIB.
Saat ini, dua korban luka dirawat di RS Pirngadi Medan.
Menurut keterangan korban yang dirawat tersebut, jumlah korban berjumlah 16. Korban lainnya di RS Pelabuhan Belawan.
Informasi sementara, korban dari pengikut aliran Jubir sebanyak dua orang.
Hendra, salah satu warga Desa Bagan Deli yang terlibat dalam bentrokan tersebut mengatakan bentrokan terjadi antara masyarakat setempat dengan pengikut aliran Jubir. Warga berusaha membubarkan aliran tersebut karena merasa resah dan khawatir fahamnya akan menyebar ke masyarakat lain.
â€Sejak sore, aliran ini mengumpulkan massa pengikutnya dari luar Belawan. Maka kami para warga langsung berembuk dengan warga lain. Kemudian pada malam hari, sekitar pukul sepuluh, kami mendatangi rumah, tempat berkumpulnya para pengikut aliran Jubir tersebut, dengan tujuan untuk mengusir mereka,†bebernya.
Saat pengusiran tersebut, warga yang datang dengan tangan kosong, rupanya, diserang balik. â€Kami pun kaget, karena tak menyangka, ternyata mereka menyerang kami menggunakan senjata tajam. Kami berhamburan,†ungkap Hendra. Beberapa warga pun mengalami luka-luka dan segera dilarikan ke Puskesmas terdekat. Namun, karena tak sanggup untuk menangani, korban dibawa ke Rumah Sakit Pelabuhan Belawan.
Sedangkan dua warga Desa Bagan Deli yang mengalami luka serius segera dilarikan ke Rumah Sakit Pirngadi Medan menggunakan ambulance milik TNI AL. Kedua warga tersebut diketahui bernama Wajiri , 31, warga Lorong Dua Desa Bagan Deli dan Barjo, 35, warga Lorong Satu Desan Bagan Deli. Ketika dibesuk di RSPM pukul 24.00 WIB, Wajiri terlihat mengalami luka di bagian tangan dan punggung belakang. Sedangkan Barjo luka di bagian wajah, paha kiri, tangan kiri dan punggung belakang.
Kapolsek Belawan AKP S.S. Napitu mengungkapkan bahwa satu pleton aparat kepolisian dari Poltabes Medan sedang berjaga-jaga di lokasi kejadian yang dibantu sebagian warga setempat. â€Jumlah korban saat ini masih didata dan diperkirakan aparat kepolisian akan berjaga sampai pagi,†jelas Napitu kepada wartawan koran ini. (ril/del/jos/mag-4/mag-11)
Read more!
Luka
Tuesday, February 5, 2008
Hindu
Thursday, January 24, 2008
Muhammad Adalah Nabinya Umat Hindu
Diposting Oleh Admin
Jangan kaget dengan berita ini. Sebenarnya berita lama yaitu tahun 1998 dalam Buletin Aktualita Dunia Islam No. 58/II Pekan III/Februari 1998. Tapi, entah mengapa kurang hangat dibicarakan. Mungkin karena kurang diketahui umum.
Padahal, ini berita menurut saya LUAR BIASA MENGEJUTKAN, terutama bagi umat Islam. Ternyata, menurut penemuan ilmiah seorang profesor Hindu, Nabi Muhammad adalah nabi yang ditunggu-tunggu umat Hindu, dan ini dibenarkan oleh para pendeta Hindu sendiri. Tidak percaya? Memang mengagetkan. Bacalah berita menarik tentang penemuan sang profesor itu. SELAMAT TERKEJUT (bukan oleh sengatan listrik)!!!
New Delhi, India--Seorang professor bahasa dari ALAHABAD UNIVERSITY INDIA dalam salah satu buku terakhirnya berjudul “KALKY AUTAR” (Petunjuk Yang Maha Agung) yang baru diterbitkan memuat sebuah pernyataan yang sangat mengagetkan kalangan intelektual Hindu.
Sang professor secara terbuka dan dengan alasan-alasan ilmiah, mengajak para penganut Hindu untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus mengimani risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw, karena menurutnya, sebenarnya Muhammad Rasulullah saw adalah sosok yang dinanti-nantikan sebagai sosok pembaharu spiritual.
Prof. WAID BARKASH (penulis buku) yang masih berstatus pendeta besar kaum Brahmana mengatakan bahwa ia telah menyerahkan hasil kajiannya kepada delapan pendeta besar kaum Hindu dan mereka semuanya menyetujui kesimpulan dan ajakan yang telah dinyatakan di dalam buku. Semua kriteria yang disebutkan dalam buku suci kaum Hindu (Wedha) tentang ciri-ciri “KALKY AUTAR” sama persis dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh Rasulullah Saw.
Dalam ajaran Hindu disebutkan mengenai ciri KALKY AUTAR diantaranya, bahwa dia akan dilahirkan di jazirah, bapaknya bernama SYANUYIHKAT dan ibunya bernama SUMANEB. Dalam bahasa sansekerta kata SYANUYIHKAT adalah paduan dua kata yaitu SYANU artinya ALLAH sedangkan YAHKAT artinya anak laki atau hamba yang dalam bahasa Arab disebut ABDUN.
Dengan demikian kata SYANUYIHKAT artinya “ABDULLAH”. Demikian juga kata SUMANEB yang dalam bahasa sansekerta artinya AMANA atau AMAAN yang terjemahan bahasa Arabnya “AMINAH”. Sementara semua orang tahu bahwa nama bapak Rasulullah Saw adalah ABDULLAH dan nama ibunya AMINAH.
Dalam kitab Wedha juga disebutkan bahwa Tuhan akan mengirim utusan-Nya kedalam sebuah goa untuk mengajarkan KALKY AUTAR (Petunjuk Yang Maha Agung). Cerita yang disebut dalam kitab Wedha ini mengingatkan akan kejadian di Gua Hira saat Rasulullah didatangi malaikat Jibril untuk mengajarkan kepadanya wahyu tentang Islam.
Bukti lain yang dikemukakan oleh Prof Barkash bahwa kitab Wedha juga menceritakan bahwa Tuhan akan memberikan Kalky Autar seekor kuda yang larinya sangat cepat yang membawa kalky Autar mengelilingi tujuh lapis langit. Ini merupakan isyarat langsung kejadian Isra’ Mi’raj dimana Rasullah mengendarai Buroq.[]
Nah, gimana komentara anda??
Read more!
Fatwa
Fatwa: Haram Hukumna Pikeun Lalaki Kawin Jeung Awewe Sakantor
Diposting Oleh Admin
Haram hukumna pikeun lalaki kawin jeung awewe sakantor"
Masyarakat nganiley MUI geus gagabah ngaluarkeun fatwa samodel kitu.Pikeun informasi anu jelas, wartawan nepungan Dr. Dhien Samsyuddin. Kieu eusi wawancarana:
" Wartawan: Ustadz, kumaha pang na tiasa ngaluarkeun fatwa eta?
Prof. Dhien Syamsudin: Kalintang haramna, nikah ka saurang oge tos beurat... komo deui ka sakantor, kan seueur jumlahna...
Read more!
Perempuan
Wednesday, January 23, 2008
Kata Mereka; Hayo, Kebebasan Beragama Tinggal Wacana?
Senin, 21 Januari 2008 lalu, secara tak sengaja aku ketemu Neng Dara sedang online (OL) di Yahoo Massangger (YM). Akupun menyapanya. Kebetulan sekali, sehari sebelumnya ada seorang teman “epistema007” yang cerita sudah ngobrol ma Neng Dara perihal prospek kebebasan beragama di Indonesia, judul posting itu “Kita Perlu Belajar kepada Gerakan Perempuan” lengkapnya bunyi email itu begini :
"Gerakan untuk tegaknya kebebasan beragama jumlahnya tidak sedikit, juga sudah berlangsung cukup lama. Tapi, mengapa sampai sekarang belum menemukan titik terang ihwal keberhasilan gerakannya. Kenapa?
Kemarin saya berbicara hal ini dengan Teh Neng Dara Affiah. Menurutnya, gerakan untuk kebebasan beragama harus berkaca pada keberhasilan gerakan perempuan yang dalam 10 tahun bisa memaksakan UU Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Mereka bisa seperti ini karena memiliki perspektif yang relatif utuh tentang pangkal persoalan serta ujung solusinya. Demikian kata Teh Neng.
Sejauh yang saya tahu, gerakan kebebasan beragama belum bisa bersatu padu untuk menentukan apa yang diinginkan bersama serta bagaimana menentukan cara terbaik yang harus diambil. Jadi, dalam perspektif ini, ada baiknya kita semua terlebih dahulu menentukan titik pangkal dan ujungnya secara bersama-sama. Pernahkah hal ini dilakukan?
Selain itu, sejauh yang saya tahu, belum ada kajian-kajian ilmiah yang dilakukan secara komprehensif ihwal tantangan dan hambatan bagi tegaknya prinsip kebebasan beragama di Indonesia. Saya tidak tahu, mungkin CRCS UGM dan Sanata Dharma sudah melakukannya atau belum? Mungkin sudah, tapi saya tidak tahu"
Aku balas saja email itu itu dengan nada psimis, kubilang :
"Saya gak tau siapa ne epistema, tapi posting ini sangat brilian..
Benar memang, elemen gerakan kebebasan beragama selama ini gak pernah bisa bersatu.
Agenda menyamakan persepsi gerakan atau minimal bertanya bareng apa yang diinginkan bersama, kok serasa sulit. salah satu cntohnya LSAF dengan Jarik-Nya. LSAF mencoba melakukan konsolidasi sampai 7 kota, tapi apa yang berhasil? saya belum melihat hasil. Yang terjadi malah di LSAF sendiri kelihatanya belum begitu siap. Jarik sendiri karena di bentuk tidak dilandasi ideologi kayak organ-2 idelogis lain akhirnya rapuh. Pertemuan-pertemuan nasional akhirnya tak lebih dari sekadar agenda curhat-curhatan. Sayang sekali. Saya samasekali tidak menohok ini kesalahan LSAF saja, Jariknya juga. Rekrutmen anggota di masing-masing kota perlu di benahi, karena terbukti yang ideologis untuk memperjuangkan kebebasan, pluralisme dan multikulturalisme bisa di hitung tangan sebelah. Kebanyakan meeka hanya ingin tau dan setelah tahu pergi begitu saja.
Lalu apa yang bisa dilakukan selama ini oleh "JARIK NASIONAL" impian LSAF itu. Nyaris gak ada kecuali mencantumkan nama di Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama Baru lalu.
Di daerah juga demikian, syukur-syukur saja, beberapa anggota jarik secara individu mau membawa nama jarik ke lembaga-lembaga dan pertemuan lain. berkawan dengan kawan-2 Ahmadiyah, Syi'ah, Hindu dan lainnya. Jika tidak ada mungkin jarik tinggal nama.
Seperti kata Epistema, pejuang kebebasan beragama itu jumlahnya tidak sedikit di negeri ini. Ditambah Jarik dus sangat..sangat banyak. Tapi mengapa tak pernah bisa seide seirama untuk memperjuangkan kebebasan beragama di indonesia? Nyaris sama dengan kondisi gerakan mahasiswa pasca reformasi sekarang ini. Aktifis kebebaan beragama berjalan sendiri-2 dan tak saling bantu dan sokong.Jika memang Undang-Undang kebabasan Beragama menjadi agenda kita semua. Saya kira sudah saatnya elemen-2 itu bersatu membahas Draf rancangan undang-undangnya biar lebih realistis. RUU itu kemudian di serahkan di DPR dan segera di sahkan. Beres kan. Tapi saya percaya pkerjaan ini tak semuadah mbalik telapak tangan. Perlu kerja keras dan optimisme. Ayo bersatu kawan-2! biar tak ada lagi diantara kita yang saling tindas di negeri sendiri"
Obrolan itu aku lanjutin akhirnya dengan Neng Dara, ini chating singkat itu:
Jhellie_me: Assalamualikum neng
Nengdara: Waalaikum Salam, siapa ya ini? Namanya maya-nya aneh.
Jhellie_me: saya jumaely neng, jaringan islam kampus mataram, kan dulu neng pernah jd fasilitator qt..moga gak lpa yach
Nengdara: Pasti aku ingat. Bagaimana follow up pasca training?
Jhellie_me: Alhamdulillah neng, jarik mataram dah punya sekretariat, aktif diskusi, baru-2 ini aksi sama temen2 hindu
Jhellie_me: oya, qt mau kasi tau neng. Jarik mataram juga dah punya blog tuch http://jarikmataram.wordpress.com/
Nengdara: Bagus sekali. Memang pilar demokrasi dan HAM adalah harus diawali dengan adanya kebabasan hak-hak beragama. Sejarah peradaban barat harus beratus-ratus untuk menegakkan ini. Saya kira di Mataram kalian harus menjadi pionir untuk memperjuangkan hal ini
Jhellie_me: saya baca postingannya kawan di milis, ngajak kita berkaca ma gerakan perempuan yang dilakukan neng dara dkk. untuk kebebasan beragama di indonesia. Saya kira memang sdh saatnya kita terang-terangan kampanyekan draft UUD keebasan beragama, Secara nasional!
Nengdara: Dibuat saja tahapan-tahapan kerjanya dan konseptualisasinya. Saya kira memang harus dibuat secara kongkret dalam bentuk kebijakan dan kesadaran secara nasional. Biar jika ada orang yang ngepung-ngepung kepercayaan lain, memiliki sangsi yang landasan hukumnya jelas.
Jhellie_me: Tapi yang jadi soal skrg, gimana crnya temen-2 pro kebbasan beragama ini duduk satu meja ngebahas itu, LSAF gagal dengan Jariknya. Kalo menurut neng?
Nengdara: Jika LSAF tidak bisa memfasilitasi, kamu sosialisasikan ide ini kepada teman-teman yang memiliki perhatian yang sama, teman-teman jarik di pelbagai daerah. Diskusikan hal-hal yang terkait dengan problem dan upaya mencari solusinya. Jika harus dibuat peraturan dalam bentuk Undang-undang, persiapkan konsepnya dan ajak orang-orang yang berpengaruh untuk aliansi strategis, misalnya Gus Dur, Djohan Effendy, Dawam Rahardjo, dll. Insya Allah saya bisa bantuk untuk membangun aliansi strategis ini
Jhellie_me: wah sore ini aku ketiban inspirasi dari neng...bersyukur aku ketemu neng OL...oya no neng di HP dulu itu dah gak ada bisa minta lagi? nanti mgkn saya bisa kntak2 neng
Nengdara: No. hp-ku: 081310709098. Untuk sementara itu dulu ya...Aku harus pulang kantor. Terima kasih sapaannya.
Jhellie_me: Makasi jg neng atas idenya hari ini saya akan lanjutkan sama kwn-2 yang lain. met jalan! wassalamualikum.
Dan malam tadi aku liahat email lagi, Husni Mubarak menanggapi email sehari lalu, ia katakan :
Pada dasarnya saya setuju dengan pandangan Episteme dan Jellie. Perjuangan untuk kebebasan beragama belum mendapat hasil yang maksimal.
Selama ini gerakan yang dilakukan semata-mata respon terhadap kelakuan para preman berjubah itu. tidak merumuskan ukurana bersama dari kebebasan beragama. sehingga kita hanya akan berjuang jika mereka (preman berjubah) sudah bergerak. jika tidak., kita pun terdiam.
meski demikian, saya tidak menutup mata upaya yang dilakukan oleh LSAF dengan Jarik-nya. begitu juga tumbuhnya kalangan liberal atau moderat dari generasi ke generasi. tapi, setuju dengan Jelie, masih terpecah. saya tidak tahu apakah fenomena ini konsekuensi dari sifat liberalnya gerakan kita. tapi saya yakin ada persepsi yang sama diantara kita: tegaknya kebebasan beragama yang dijamin oleh negara. hanya saja bagaimana kita merumuskan persamaan perepi ini dalam konteks bernegara. apakah kita perlu UU khusus untuk ini sebagaimana kaum perempuan dengan UU KDRT-nya? atau kita hanya mendorong pemerintah untuk menjalankan UU yang sudah ada saja? atau kita tunggu saja gerakan kelompok islamis?
saya tidak tahu.
Read more!
Prese
Thursday, January 10, 2008
Menjaga Kebebasan Beragama-Berkeyakinan; Menyelamatkan Martabat Bangsa
Diposting Oleh Admin
Tahun 2007 berakhir dengan catatan kelam dan duka mendalam bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kekerasan atas nama agama merebak tanpa penyelesaian berarti. Televisi menayangkan secara gegap gempita mesjid dan rumah komunitas Ahmadiyah dibakar sekelompok orang sementara polisi bersiaga tanpa berbuat banyak.
Kelompok Al-Qiyadah digelandang ke kantor polisi: ditobatkan dan sebagian dikriminalisasi. Lia Eden menjalani 2 tahun penjara demi keyakinannya. Gereja disatroni dan dipaksa menghentikan aktivitasnya, meninggalkan umatnya kehilangan tempat ibadah. Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia terus mendaftar kelompok-kelompok minoritas dan mengidentifikasi mereka sebagai aliran sesat. Kata sesat diproduksi dan dijadikan dasar pembenar untuk menghilangkan keberagaman.
Menafikan keberagaman dalam konteks Indonesia adalah suatu pengkhianatan terhadap cita-cita dan dasar negara. Pancasila dan UUD 1945 dibentuk dengan kesadaran Indonesia sebagai wadah kesatuan bagi segala perbedaan dari Sabang hingga Merauke. Indonesia dibangun dengan kesepakatan tiadanya dominasi satu agama terhadap agama lain karena dominasi tersebut akan menghancurkan kesatuan itu sendiri. Tidak ada pula suprastruktur yang dapat mengendalikan struktur resmi kenegaraan, aturan lazim dalam negara yang percaya hukum dan demokrasi sebagai pagarnya.
Fakta belakangan ini tidak saja memprihatinkan karena menunjukkan kekerasan menjadi jalan keluar bagi masyarakat serta toleransi semakin menipis. Lebih dari itu, kesan tidak berdaya dan membiarkan dari aparat penegak hukum sungguh mengkhawatirkan. Seakan Polisi dan Jaksa tidak bertindak berdasarkan konstitusi dan hukum melainkan desakan sekelompok orang serta negara membuat keputusan dengan mendengar fatwa sebuah organisasi masyarakat. Bila hal ini dibiarkan maka Indonesia akan dikendalikan oleh kekerasan, hukum akan kehilangan wibawa dan kekuatannya, dan peradaban serta demokrasi akan tinggal kenangan.
Berdasarkan hal-hal di atas kami dari Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) mendukung:
1. Presiden RI :
- Untuk menjaga keutuhan dan martabat bangsa dengan berpegang teguh pada amanat UUD 1945 dan Pancasila serta tidak tunduk kepada intervensi kelompok-kelompok agama tertentu yang menyatakan kelompok lain sesat dan melegitimasi tindak kekerasan atas nama agama.
- Untuk dapat memberikan jaminan kebebasan beragama dan berkeyakinan kepada setiap warga negara sesuai dengan mandat hukum HAM internasional yaitu melindungi (to protect), menghormati (to respect), dan memenuhi (to fullfil) hak-hak dasar warga.
2. Kejaksaan Agung :
- Untuk berpegang teguh pada prinsip penegakan hukum dan tidak mengkriminalkan, membekukan, dan melarang suatu aliran agama/kepercayaan tertentu berdasarkan Fatwa MUI.
- Untuk tidak melanggar hak-hak konstitusioanal warga negara (hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan) yang berakibat pada merosotnya harkat dan martabat bangsa dalam pergaulan masyarakat internasional.
3. Kepolisian:
- Untuk memberikan perlindungan kepada warga negara dengan melakukan pencegahan terjadinya tindak kekerasan, pelarangan menjalankan agama dan keyakinannya oleh kelompok kelompok agama tertentu/kelompok milisi.
- Untuk menindak tegas pelaku tindak kriminal atas nama agama sesuai dengan hukum yang berlaku.
4. Masyarakat :
- Menghargai perbedaan agama dan keyakinan sesuai dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.
- Menghindari tindak kekerasan dan mengedepankan dialog jika menganggap ada perbedaan paham keagamaan dan keyakinan.
Jakarta, 7 Januari 2008
Read more!
Cak Nur
Wednesday, September 19, 2007
Cak Nur Yes, Liberal No!
Pasca pemberedelan aliran-aliran ganjil dan dikeluarkan fatwa haram sekaligus halal darahnya bagi Ulil Absar Abdallah, coordinator JIL (Jaringan Islam Liberal). Seolah-olah pemahaman yang berbeda dengan khalayak banyak sering dikategorikan liberal.
Maraknya jaringan islam yang mengusung iseu-iseu Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme, Demokrasi, Gender membuat sebagian kelompok masyarakat mencibirnya, bahkan tak segan-segan memberikan label kafir.
Menikapi persoalan pelik itu, Budi Munawar Rahman, Program officer TAF (The Asia Foundation) angkat bicara, ‘Melalui pelatihan ini kita persiapkan pemimpin dimasa mendatang supaya terlahir intelek muda gaya paramadina,’ katanya saat ‘Forum Curhat’ Nasional Meeting Jaringan Antar Kampus, Hotel Pramesti Cibogo Bogor, (20/08).
Tentunya dengan argumenta yang mempuni dan menghargai perbedaan. Maka rireklah keagamaan. Hadirkanlah ruang-ruang keraguan dalam setiap pemahaman, tambahnya.
Lebih lanjut Ia menuturkan saat pelatihan di pelbagai daerah tentang iseu Sekulerisme, Liberalisme, Pluralisme dan Demokrasi ‘Kalo paramadina membawa ajara-ajaran liberal, maka kami tolak, tapi bila membumikan gagasan Cak Nur, maka kami menerimanya, ungkapnya sesuai dengan sambutan perwakilan Rektor IAIN Mataram.
Sejatinya kita mengamini pemikiran Nur Cholis Madjid. ‘Pokonya Cak Nur Yes, Liberal No!’ papar Te Che, aktivis JarIK Bandung. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Cempaka Hotel Pramesti, 29/08/07;00.06 wib
Read more!
JarAK
Acara nasional meeting ini merupakan kerjasama Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) dengan Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) di Hotel Pramesti Cibogo Bogor, mingu-rabu, 19-22 Agustus 2007.
Menanggapi harapan itu, sebagaian besar peserta seminar angkat bicara. Salah satunya Pradewi anggota jarIK Bandung ‘Ya mesti anak Jarak itu menjadi JarIK, tapi ada syaratnya. Yakni basic (pelatihan awal--red) dulu. Bukan langsung ikut gabung ke yang Advance dan TOT (Training Of Trainer--red)’, cetusnya.
‘Bagi saya tak peduli mau diJarIKan atapun tidak ga jadi soal. Wong aku ga tau mana JarAK atau JaIK’, jawab perwakilah Malang.
‘Bisa saja bagi kawan-kawan JarIK yang sudah beberapa kali bertemu dalam pelatihan (Intra, Advance dan TOT--red)’, Yang terpenting dapat ilmu dan temen saja. Ok, tambahnya.
Kegiatan nasoanal itu dihadiri dari pelbagai PT Islam se-Indonesia; STAIN Banjarmasin, IAIN Aceh, IAIN Surabaya, IAIN Mataram, IAIN Medan, IAIN Palembang, UIN Jakarta, UIN Jogjakarta, UIN Bandung, UIN Makasar, Universitas Paramadina, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Muhamadiyyah Malang. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Cempaka Hotel Pramesti, 19/08/07;23.56 wib Read more!
Kata Mereka
Sunday, July 22, 2007
Apa Kata Mereka Soal Advance Training
Kehadiran Advance Training (AT) dan Training Of Trainer (TOT) malah menuai pelbagai protes dari anggota JarIK dimanapun berada. Pasalnya, persyaratan training itu dianggap membebankan peserta pelatiahn. Hingga tulisan ini diturunkan mereka masih bersikukuh soal pembuatan 4 peper.
`Yah, kita yang juga lagi sibugh dengan kegiatan lainnya tentu saja merasa lebih tertantang, apalgi dengan ketentuan minimal 20.000 karakter. Trus ditambah lagi dengan batas akhir pengiriman akhir bulan juli ini. wah, sangat menantang. Tapi, terserah seh..kita mah yang penting usaha,` tulis Bahrul Haq, JarIK Jakarta.
`SYARAT NYA ADUH KUMAHA NIH...,4 PAPER UNTUK SETIAP PAPER 20.000 KARAKTER BISA NAWAR GA.........'LSAF'?5 RB KARAKTER AJA TIAP PAPER YACH.........TERUS KIRIMAN BAHAN-BAHANNYA HARUS SECEPATNYA BIAR KAMI LEBIH MATANG DALAM PEMBUATAN PAPERNYA, usul Ani Marlina, JarIK Garut.
`Elok iki kang..banyak banget...sekitar 15 hlm kwarto spasi 1.5 font 12 times new roman...mungkin waktu kali ya yg perlu diundur..jgn 30 juli lah...sampai 10 agustus misalnya. jadi agak longgar....palagi da beberapa temen yg terbentur PKL...oke, Cetus Subkhi Ridho, Koordinator JarIK Jogyakarta.
`Saya, pradewi tri chatami menyatakan keberatan akan syarat 4 paper untuk mengikuti advance training. saya akui, tradisi menulis saya belum mapan, dan saya masih terbelit masalah akademis dalam mengikuti kuliah praktikum, yang bahkan merampok hari minggu saya menjadi rutinitas membosankan. karena waktu yang disediakan untuk menulis sangat singkat, saya jelas sangat keberatan. bahan-bahan bacaan yang akan dikirimkan (yang entah sampai kapan sampai di inbox saya) barangkali masih harus berebut atensi di 24 jam x 17 hari yang teramat singkat. apakah bahan bacaan tersebut dapat efektif? silakan anda jawab sendiri. wassalam, Papar Che, JarIK Bandung.
Yuuuk....................kawan Teche ada benernya jg....LSAF prlu mempertimbangkannya lagi dech.., ungkap Jhellie, Koordinator JarIK Mataram.
Tak ayal kiriman bahan bacaan Advance pun harus menjadi penopang pelatihan itu, demikian kata Ani.
`Bagi saya sendiri neng ani ti urang garut mah masalah 4 ppaper mah ga masalah, asalah luangin waktu 2 jam sehari ja buat bikinya pasti berez, tantangan demi tantangan harus bizalah, meski kawan teche ribet atas syarat itu, yang bikin keselnya aku nunggu kiriman bahan-bahan materinya dari LSAF mana atuh, koq gada, kapan mo dikirimkan,biar ani cepet kerjain sekarang sekarang maklum aku kan udah mulai ngajar lagi nih, jadi ketika libur gini aku pengen kerjakan syarat2 advance, jadi to LSAF................CEPET KIRIMIN YACH..........MUMPUNG ANINYA LAGI AGAK NYANTEI NIH, jelasnya.
Tak mau ketinggalan pihak LSAF pula menanggapnya dengan membuat pernyataan `Kepada kawan-kawan calon peserta advance training. sehubungan dengan prasyarat penulisan paper untuk advance training, maka kami akan mengirimkan bahan-bahan bacaan tentang Duham, International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), Undang-undang RI tentang HAM dan ICCPR serta kebebasan beragama, termasuk juga paper Rumadi tentang Agama-agama dan Regulasi negara di Indonesia.
Mudah-mudahan bahan-bahan tersebut bermanfaat sebagai referensi dalam menulis paper. Btw, apakah syarat menulis empat paper cukup memberatkan buat kawan-kawan?
Ingin tak disebut ikut nimbrung, Eko Marhaendry mempertanyakan bahan bacaanya. `Empat paper sich sebuah kaharusan untuk ngikuti edvance training, masalahnya waktunya terlalu mepet, jadi kualitas tulisannyapun boleh jadi "mepet juga" (he..he..he!), tegasnya.
Lagi Bahrul angkat bicara `jadi bagaimana keputusannya??? kita masih digulung dengan kesibukan nih. tolong secepatnya diberikan kejelasan tentang waktu atau pun persyaratannya.. supaya kita bisa persiapkan dengan baik dan bisa bagi-bagi waktu, ungkapnya.
Wahlasil, persyaratan 4 makalah pelatihan pun berubah menjadi 2 peper. Keputusan terakhir dari LSAF melalui pernyataan `Sehubungan dengan munculnya banyak keberatan kawan-kawan atas prasyaratan 4 paper untuk advance dan TOT, maka panitian AT & TOT akhirnya membuat perubahahan: pilih saja 2 paper untuk ditulis dari 4 pilihan yang ada.
Selain itu, ada kemungkinan kegiatan AT & TOT tersebut dimajukan menjadi awal agustus.
Demikian informasi terbaru seputar AT & TOT. Saran dan kritik kawan-kawan kami tunggu.
Benarkah dengan diturunkanya kriteria pelatihan persoalan lain tak akan bermunculan seiring perkembangan kawan-kawan. Tentu jawabanya tidak. Lihatlah respon dari Bahrul tentang pemajuan jadwal Advance. Semulah akhir Agustus menjadi awal bulan.
'Saya keberatan jika waktu AT & TOT malah akan dimajukan, saya pribadi akan sangat kesulitan dengan waktu yang pasti akan betrok dengan jadwal kegiatan lain. saat ini saya sedang menggarap Kongres ke-26 HMI MPO, saya sebagai Ketua Panitia, acara tersebut insya Allah akan digelar pada tanggal 12 s.d. 18 Agustus 2007. sedangkan, saya sangat ingin ikut menjadi peserta AT & TOT.
Demikian, mudah-mudahan rencana perubahan waktu bisa gitinjau kembali. saya berharap pengertiannya.
`Euhhhhhh
teu leures!
awal-awal
akhir-akhir!
uih yuk!
pundung abimah!!!!!, Kata Iya Maliyya, JarIK Bandung.[Ibn Ghifarie]
Read more!
Islam Terbelakang
Sunday, July 8, 2007
Mandegnya Tradisi Keilmuan Islam Akibat Sikap Apologetik
Oleh Muhammad Kodim/SYIRAH
Jakarta- Mandegnya tradisi keilmuan Islam lebih diakibatkan oleh sikap apologetik dalam melakukan studi Islam. Dalam konteks ini, agama dijadikan kebohongan untuk membenarkan keimanan, keyakinan pribadi dan menegasikan keyakinan-keyakinan yang di luar Islam.
Demikian yang diungkapkan oleh Ketua Yayasan Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) M. Dawan Rahardjo salah satu panelis dalam acara diskusi dengan tema “Kajian Islam di Barat: Perkembangan dan Prospeknya” Jumat, 06 Juli 2007 di Ruang Diskusi Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) jl. Kalibata Timur no.31 A.
Diskusi berseri yang sudah dilaksanakan kedelapan kalinya ini oleh LSAF mengambil tiga isu besar yaitu Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme.
Lebih jauh dalam membeberkan persoalan ini, Dawam meminjam analisisnya Swidler yang melihat agama dalam konteks lima C, yaitu: creed (aqidah), cult (ibadah), code (akhlak/budi pekerti), comunity structure (struktur masyarakat), siciety and civilization (masyarakat dan peradaban).
Mengikuti analisa ini, Dawam melihat tradisi keilmuan masih berkutat pada dua persoalan awal yaitu creed dan cult.
“Nah, tradisi keilmuan Islam masih berkutat pada dua itu. Makanya kemudian larinya pada konteks penguatan keimanan itu sendiri,” paparnya.
“Sementara tradisi keilmiahan di Barat itu berpijak pada tiga terakhir itu. Maka kemudian lebih konkrit, berguna, dan sebagainya. Pijakan-pijakan itu empiris,” lanjutnya.
Jika ingin berkemabang, kata Dawam, harus berani melampaui wilayah creed dan cult itu. “Creed dan cult itu sudahlah. Itu persoalan akidah dan ibadah,” serunya.
Kenapa harus melampaui akidah dan ibadah tersebut? Menurut Dawam, karena akidah dalam dunia Islam begitu banyak, ada Mu’tazilah, Jabariyah, Qodariyah, dan sebagainya.
“Jadi kita tidak bisa berpijak pada teologi dan akidah yang begitu banyak. Biarkan itu menjadi kewenangan yang privat. Begitupun soal ibadah, itu menjadi pilihan tiap individu,” ungkapnya.
Untuk menarik ke konteks yang lebih dekat dan kecil lagi, Dawam mencoba melihat tradisi pengajaran yang berkembang samapai saat ini di Institut Agama Islam Negeri (IAIN), atau apapun namanya.
Tradisi pengajaran di IAIN, kata Dawam, masih tidak beranjak dari kedua hal tersebut, creed dan cult.
“Maka usaha untuk mempelajari perbandingan agama di IAIN itu tradisinya masih tradisi untuk melihat keborokan-keborokan agama lain. Bukan dalam konteks bagaimana melihat agama lain itu secara empati, respek dan sebagainya,” paparnya.
Dalam konteks ini, Dawam melihat agama sebagai kebohongan untuk membenarkan keimanan, keyakinan pribadi dan menegasikan keyakinan-keyakinan yang di luar Islam.[]
Read more!
Mas Dawam
Wednesday, July 4, 2007
Pluralisme: Hidup Damai Milik Dawam Rahardjo
oleh Isyana Artharini
PADA perayaan ulang tahun ke-65, Dawam Rahardjo keluar dari ruang kesepiannya setelah teman-teman lama menjauhinya. Mengenakan peci hitam dan setelan jas abu-abu, ia menyambangi teman-teman barunya.
Ulang tahun Dawam dirayakan bersamaan dengan peluncuran buku berjudul Demi Toleransi, Demi Pluralisme, di aula Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, Jumat (4/5) malam.
''Ternyata teman saya masih banyak, karena akhir-akhir ini saya merasa ditinggalkan oleh teman-teman lama saya,'' kata Dawam di sela perayaan ulang tahunnya.
Buku sebagai hadiah ulang tahun telah diedit oleh kawan-kawannya, Ihsan Ali-Fauzi, Syafiq Hasyimm, dan JH Lamardy. Buku itu memberi kesan bahwa para kolega dan sahabatnya masih setia dengan pemikiran dan gerak aktivitas, serta esai-esai Dawam.
Keistimewaan buku itu ditulis oleh 31 orang, antara lain Ahmad Syafii Maarif, BJ Habibie, Siti Musdah Mulia, Franz Magnis Suseno, Komaruddin Hidayat, Didik J Rachbini, Nono Anwar Makarim, dan Daniel Dhakidae.
Ada yang istimewa bagi mantan Rektor Unisma Bekasi kelahiran Kampung Baluwarti, Solo, 20 April 1942, dalam pesta ulang tahunnya itu. Malam itu ikut hadir juga teman-teman 'terbaru' Dawam, dari Komunitas Eden. Komunitas itu melalui salah seorang juru bicaranya menyatakan hanya Dawam satu-satunya orang yang bersedia dialog dan bertanya tentang kepercayaan mereka.
Dawam pun ikut terlibat dalam diskusi-diskusi panjang untuk mencoba memahami ajaran Eden. Ia juga menyerukan untuk membela Ahmadiyah, sebuah sikap yang berseberangan dengan kawan-kawannya.
''Semua itu atas nama toleransi dan pluralisme. Saya tidak peduli dikatakan orang. Dibilang Komunitas Eden, enggak apa-apa. Ahmadiyah, enggak apa-apa. NU juga enggak apa-apa. Asal jangan bilang saya Muhammadiyah,'' kata Dawam disambut tawa hadirin.
Pluralisme, baginya, menjadi sebuah jalan menuju kedamaian. Ia mengaku, saat menjadi seorang yang belum toleran, ia harus terus-menerus membenci dan menolak segala sesuatunya yang berbeda darinya. Ia harus terus penuh dengan rasa marah. ''Tapi sekarang saya dapat kasih sayang lebih banyak. Ancaman yang saya terima malah berkurang,'' katanya lagi.
Toleransi, juga menjadi kata kunci menuju kedamaian. Namun baginya yang lebih penting lagi adalah kunci menuju kemajuan. Tanpa toleransi, tidak mungkin Islam akan menjadi maju. ''Toleransi tidak berarti lemah. Saya malah lebih bisa memahami akidah saya dengan lebih baik,'' ujar Dawam.
Dawam yakin kebenaran ada di mana-mana. Kebenaran bisa ditemukan di berbagai kitab suci. Ia pun pernah memberikan nasihat kepada Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra tentang toleransi. ''Seseorang tidak akan bisa menjadi intelektual sempurna jika ia masih apriori dengan marxisme.''
Teman-temannya yang hadir seperti Utomo Dananjaya, Daniel Dhakidae, Siti Musdah Mulia, dan M Syafi'i Anwar pun memuji langkah intelektual Dawam yang berani menunjukkan jati dirinya.
Mereka menilai Dawam sebagai seorang intelektual yang telah melakukan pembelaan bagi rakyat dan mengedepankan keadilan. Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP) Jakarta M Syafi'i Anwar menambahkan mengutip pendapat Bung Hatta, intelektual harus memiliki kepribadian moral, kepedulian sosial, dan melakukan pembelaan terhadap rakyat.
''Beliau telah memenuhi persyaratan itu dengan menunjukkan identitas dan jati dirinya saat melakukan pembelaan terhadap kelompok-kelompok yang dipinggirkan.''
Selamat ulang tahun Pak Dawam. (Isyana Artharini/H-3)
Sumber: Media Indonesia, Minggu, 6 Mei 2007
Read more!
Pertemuan 2
Friday, June 15, 2007
Dialog Petang
Sesuai dengan rencana semula. Pertemuan kedua ini mencoba mengurai soal `Pemaparan dan Singkronisasi Tiap Divisi` (14/06) di Sekretariat Tertunda.
Namun, apa yang terjadi sederetan agenda acara harus tertunda satu minggu. Pasalnya, kawan-kawan yang hadir pada obrolan malam berbeda dengan temen-temen dulu saat penentuan pertemuan berikutnya.
Walhasil, diskusi ngelantur pula tak terelakan lagi. Apalagi saat salah satu rekan kami mempertanyakan pertemuan kedua ini. Tentunya, hasil kesepakatan pertemuan 1 harus di bacakan ulang dengan seabreg penjelasan dan tek-tek bengeknya.
Ironis memang. Tapi inilah wajah kelompok kajian. Selalu ada proses pengulangan kejadian yang sama. Meski terdapat pemaknaan yang berbeda.
Yang jelas ngahuntu itu hanya membuang-buang energi saja sekaligus menunda pelbagai kegiatan inti.
Tak ada jaminan, saat tiba waktu penjabaran dari program kerja tiap divisi hanya sebatas pemenuhan amanah semata dengan kondisi alakadarnya.
Lagi soal energi pun harus menjadi menjadi bahan cibiran akibat terbuang banyak semangat dalam pertemuan alot petang tersebut. [Ibn Ghifarie]
Read more!
Silaturahmi
Obrolan Senja
Upaya memperetar temali silaturami pasca Pelatihan Besic di LEC (Local Education Center) Cicalengka JarIK (Jaringan Islam Kampus) Bandung Angkatan II, maka kami menggelar Dialog Senja (09/06) berkenaan dengan amanah Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang telah di sepakati di Sekretariat `Tertunda` Jl. Desa No 105 Cibiru Bandung 40614
Kendati acara obrolan sore itu tak banyak membuahkan hasil kecuali membentuk Visi, Misi dan Strategi, Struktur, Rencana Program Kerja dan pengadaan seperangkat infra struktur JarIK Bandung.
A. Visi, Misi dan Strategi
- Visi `Mewujudkan Bandung Demokratis`
- Misi `Transpormasi SPL (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme)
- Strategi `Peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia), Penguatan Wacana dan Pengorganisasian
B. Struktur
Koordinator : Te.Di Taufiqrahman
Sekretaris : Ibn Ghifarie
Bendahara : Evey
Divisi Kajian
Ketua : Billy
Anggota : Faridz Ridwan
: Rukman
: Abdullah
Divisi Pelatihan
Ketua : Wandi Afandi
Anggota : Reni Sendiawati
: Shinta
: Dian
: Hadir
Divisi Pers
Ketua : Marliyya
Anggota : Via
: Freddi
: Chepi
Divisi Penelitian
Ketua : Dindin
Anggota : Ali
: Te Che
: Naufal
: Abok
C. Rancangan Program Kerja
Divisi Kajian
Jangka Pendek
- Diskusi Reguler 1 minggu sekali. Materinya berkenaan dengan SPL (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme)
-
Jangka Panjang
- Seminar dan Bedah Buku 3 bulan sekali
Divisi Pelatihan
Jangka Pendek
- Pelatihan Mc
- Pelatihan Moderator
- Pelatihan Observer
- Pelatihan Fasilitator
Jangka Panjang
- Pengadaan Modul JarIK
Divisi Pers
Jangka Pendek
- Pelatihan jurnalistik
- Pelatihan Noutulen
- Pengadaan Buletin 1 bulan sekali
- Ngeup date Blog
Jangka Panjang
- Pengadaan Perpustakaan dan Taman Baca
Divisi Penelitian
Jangka Pendek
- Pelatihan Penelitian
Jangka Panjang
- Pembukuan hasil penelitian
D. Infra Struktur
- Sekretariat
- Komputer
- Tape Corder
- Cam Dick
- Lemari
- Karpet
- Bor
- Papan Mading
- Jam Dinding
- Listrik
Tak hanya itu, pengadaan buku-buku Islam pula menjadi modal utama dalam mentraspormasikan SPL tersebut. Mulai dari Isalam ala Rahman, Arkoun, Al-Jabiri, Hanafi, Syariati, Muthohari, Cak Nur, Dawam, Komarudin Hidayat beserta Madzab Ciputatnya. [Ibn Ghifarie]
Read more!
Komnas KB
Wednesday, May 30, 2007
Mahasiswa UIN SGD Impikan Komnas Kebebasan Beragama
Oleh Ibn Ghifarie
`Karena kebebasan beragama mengalami gangguan dan keran-keran kebebasan masih tersumbat. Ini yang perlu kita atasi,`demikian ungkap Kautsat Azhari Noer dalam Seminar Sehari `Masa Depan Kebebasan Beragama Di Indonesia’
Pagi hari yang cerah itu, tak seperti hari-hari biasanya Auditorium UIN Sunan Gunung Djati dibanjiri lautan manusia. Tak lain mereka sedang mengikuti acara Seminar Sehari (28/05), yang dilakukan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pengkaian Ilmu Keislaman (LPIK) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UIN SGD Bandung bekerja sama dengan Jaringan Islam Kampus (JarIK) Bandung.
Menghadirkan Nara Sumber; Prof Dr Kautsar Azhari Noer (Guru Besar Perbandingan Agama UIN Sarif Hidayatullah Jakarta; Perspektif Lintas Iman), Dr Afif Muhammad (Direktur Pasca Sarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung; Perspektif Akademisi), Iqbal Hasanuddin (Perwakilan Direktur Lembaga Studi Agama dan Filsafat Jakarta; Perspektif Kebijakan Negara) dengan dipandu oleh Tedi Taufiq Rahman (Koordintor JarIK Bandung).
Membincang kebebasan agama yang kian hari semakin terpuruk. Salah satunya dengan dikeluarkannya 11 fatwa MUI (2005). Bahkan sebagian kelompok dan mahasiswa menuntut supaya diadakanya Komisi Nasional (Komnas) Kebebasan Beragama).
`Justru kebebasan beragama itu disumbat atas nama agama. Yakni islam sendiri. Seperti yang terjadi pada Ahmadiyyah di parung Bogor atau Komunitas Lia Eden itu sendiri, ungkap Kautsar.
Menurutnya, Saudara jangan salah paham, tapi harus membela kebebasan beragama karena ada dalam al-Quran sambil mengutip ayatnya. Kita hanya diperintakan supaya berdakwah, bukan untuk mengadili kelompok lain. Apalagi saling sesat menyesatkan, sebab yang perlu mengadili keimanan kita hanya Tuhan semata, tegasnya.
Kebebasan beragama tidak bisa lepas dari aspek politik dan dudukung sepenuhnya oleh penguasa madzab resmi negara, katanya.
Terkait dengan syariat kebebasan beragama tidak perlu penegakan, karena Indonesai merupakan negara hukum. Cuman persoalan adakan pemberian kebebasan untuk menganut madzab lain bagi mereka? Jawabnya tidak ada. Misalkan kasus nikah beda agama. Ada yang membolehkan; Adakan ruang bagi mereka.
`Ini yang menjadi masalah. Memfasilitasi nikah beda agama itu merupakan jalan terakhir dan darurat, bukan mempromosikan. Ingat itu,` paparnya.
`Ya daripada berzina sampai tua, mendingan dinikahkan saja. Ini ijtihad saya, tambahnya. Di mata Afif `Kebijakan politik, yang tidak berpihak pada mayoritas akan terus memperburuk kebebasan beragama.` Seperti pada saat kabinet tahun 70-80 perwakilan umat islam tak memadai. Padahal pemilu (Pemilihan Umum-red) yang menentukan kebijakan politik tersebut.
Selain, cara pemahaman dan rujukan terhadap al-Quran yang berbeda-beda dalam menyelesaikan persoalan yang memperburuk kebebasan beragama di Indonesia, ujarnya.
Di tambah lagi dengan adanya pelembagaan agama. Ini yang menjadi biangnya masalah sekaligus adanya penyeragaman pada masyarakat. Satu kelompok tertentu menganggap hanya golonganyalah yang paling benar. Di luar itu tidak ada. Hingga terjadilah bentrokan antara Muhamadiyyah dan NU sebagai contoh, jelasnya.
Tentunya dipertajam dengan adanya partai politik. Dalam hal Idul Fitri dan Adha saja selalu terjadi keributan. Akhirnya Sholat hanya menunjukan seberapa kuat dan besarnya kelompok tersebut. Bukan mencari keridhoan Allah SWT. Sungguh mengerikan, tandasnya.
Padahal kelembagaan agama itu hak Allah. Yang membedakan diantara kita itu hanya Fiqh saja, katanya.
Berbeda dengan Afif dan Kautsar. Iqbal menilai mandegnya kebebasan beragama ini dilatar belakangi oleh `Nalar Islam yang terlalu mengedepankan teks, bukan akal. Aruju ilal Quran dan Sunnah dipahami secara teks saja, `paparnya.
Tidak adanya penegakan hukum secara tegas dalam menyelesaikan kasus Ahmadiyyah atau Eden. Padahal Kebebasan Beragama merupakan hak asasi manusia dan negara tak boleh ikut mengerangkengnya. Jika negara ikut mempersoalkan aliran-aliran ganjil itu, maka telah terjadi tindak kriminailitas, tambahnya.
Menyoal solusi kebebasan beragama, Kautsar mengutarakan. Tak ada cara lain selain menggelar dialog. Meski politik pun menjadi faktor utama dalam menentukan kebijakan. Pendidikan pula harus menjadi modal dasar dalam menunjang keberlangsungan kebebasan beragama ini.
`Pokoknya kebebasan beragama harus kita perjuangkan, bukan ditinggalkan, saat menutup pembicaraanya.
Senada dengan Kautsar, Afif menambahkan `Kita suka mencari perbedaan-perbedaan, bukan kesamaan. Tanpa dialog itu tak ada kemajuan. Inilah peran perguruan tinggi dalam menyongsong kebebasan beragama,’
Kendati, suasana politik yang memperburuk keadaan itu. Namun, teruslah berdialog supaya terjadi kesetaraan dan mempererat tali ukhuwah diantara kita, tegasnya.
Kelahiran sekularisme, liberalisme dan pluralisme di harapkan menjadi sosuli alternatif yang masuk akal dan tanpa itu semua tak akan menyelesaiakn persoalan bangsa, kata Iqbal.
Kebebasan beragama tak akan terwujud bila tak mengikuti prinsip-prinsip diantarnya; adanya UUD Kebebesan beragama; jaminan tak beragama; pernikahan lintas Iman; terbentuknya Komnas (Komisi Nasional) Kebebasan Beragama, tambahnya.
Menyinggung Komnas Kebebasan Beragama. Salah satu mahasiswa yang tak mau disebutkan namanya berpendapat. `Itu harus ada. Masa hanya Komnas Perlindungan Anak atau Perempaun yang ada.
`Mau beragama atau tidak itu sudah merupakan hak asasi manusia. Makanya negara harus menjamin kebebasan beragama masyarakat Indonesia. Bukan sebaliknya,`saat ditemui PusInfoKomp.
Lepas dari adanya usulan pembentukan Komnas Kebebasan Beragama, Faisal Amir, Ketua Umum LPIK menjelaskan `diadakanya acara ini merupakan respon terhadap berbagai macam aliran keagamaan, yang sering dianggap kafir dan dapat meresahkan masyarakat. Terutaman yang berkaitan dengan kebebasan beragama yang kian semakin terpuruk.`
`Sekaligus Milangkala LPIK ke XI. Semoga bermanfaat,` tegasnya.
`Adanya krisis kebebasan dan landasan kebebasan telah digerogoti oleh pemahaman agama yang kaku,`kegiatan ini diadakan ungkap Tedi, Koordinator JarIK Bandung.
`Munculnya komunitas Eden, Yusman Roy sebagai biang kerok persoalan keterpurukan bangsa. Seolah-olah komunitas minor telah dipaksakan untuk mengikuti gologan mayoritas,`katanya.
`Mudah-mudahan dengan diadakan seminar ini mendapatkan pemahaman baru dalam menyikapi pelbagai persoalan keagaman,` [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Samping Auditorium UIN, 28/05;13.42 wib
Read more!
