RSS
Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Iblis

Wednesday, August 6, 2008

Iblis Setitik, Rusak Manusia Sebelanga
Oleh Badru Tamam Mifka

Dosa selalu dianggap sesuatu yang di luar, semacam godaan. Tak heran jika iblis atau setan atau apapun namanya, seringkali dianggap kambing hitam atas terjadinya dosa. Iblis dianggap provokator. Ya Tuhan, lindungi aku dari godaan setan dan iblis yang terkutuk.

Begitulah doa singkat yang selalu kita ucapkan setiapkali kita sedikit merasa gentar dalam iman, merasa ingin kebaikan dan keteguhan. Lantas sedekat apakah iblis dengan kita? Sedekat hela napaskah? Seperti apakah bentuknya? Semacam hasratkah? Adakah iblis sebagai musuh nyata di luar manusia? Ataukah ia adalah bayangan kita sendiri?

Bayangan? Ya, bayangan. Ia muncul karena manusia berada diantara cahaya dan kegelapan. Ia bukan cahaya, bukan pula kegelapan. Ia diciptakan dari potensi keduanya. Jangan heran jika ada manusia yang (memilih) baik, dan ada manusia yang (memilih) jahat. Semua itu tergantung kehendak-diri, hasrat diri. Kelak manusia membangun hukum, aturan, undang-undang dan lain sebagainya. Itulah yang membedakannya dengan binatang.

Kebebasan hasrat manusia sudah ditempatkan pada aturan dan hukum yang dibuat oleh masyarakat itu sendiri. Jika hasrat dibiarkan seenaknya melanggar, maka itulah dosa. Dosa adalah pilihan. Jika kita memilih hal yang buruk, maka buruklah kita. Kejahatan lahir karena manusia begitu lemah mengatur dirinya sendiri. Dosa lahir karena kita ceroboh memahami dan mengendalikan keinginan diri. Hasrat tanpa aturan dan cara main yang baik, adalah hasrat iblis. Hawa nafsu tanpa filterisasi, sumber kejahatan, rahim lahirnya iblis.

Kita sendirilah yang menginginkan dosa dan kesalahan. Kitalah yang melahirkan dan membesarkan iblis. Iblis adalah nyala api dalam diri. Siapa yang menyalakan api iblis dalam diri, dialah yang kalah. Siapa yang menuruti hawa nafsu, dialah yang akan melanggar banyak hal. Hubungan sebab-akibat itulah yang ingin menjelaskan tentang dosa dan iblis. Iblis adalah metafor. Ia adalah kejatuhan, “nyala kegelapan”.

Kitalah yang memproduksi iblis, dan pada gilirannya ia akan lebih berkuasa atas diri kita. Seperti halnya manusia yang memproduksi mesin, pada gilirannya mesin bisa lebih hebat dan berkuasa atas diri kita. Atau seperti televisi yang dibuat oleh manusia sendiri, ia akan hidup lewat remote control yang berada dalam tangan kita, tapi dia bisa lebih kuat mengatur hidup kita. Disanalah kita dalam keadaan “menentukan” dan “meminta”. Begitulah iblis diri dan hawa nafsu. Siapa yang selalu menuruti keserakahan hawa nafsu, dialah yang tengah membesarkan iblis dalam dirinya. Jika ia sudah tumbuh besar, apalah daya untuk melumpuhkannya. Meskipun hanya setitik iblis dipatuhi, tentu akan demikian merusak seluruh fitrah baik kemanusiaan kita. Tak hanya secara personal, tapi kerusakan sosial.

Bayangkan saja, seperti halnya oknum pejabat setitik, rusak pejabat semuanya. Kebaikan semua ditentukan oleh kebaikan individu. Citra universal ditentukan oleh kepingan-kepingannya. Begitupun dengan iblis. Sekali saja ia menguasai diri kita, mempengaruhi kita untuk berbuat jahat, maka rusaklah keseimbangan diri. Akibat lain, kepercayaan orang lain pada kita akan susah untuk tumbuh kembali. Itu dikarenakan perbuatan yang didasari hawa nafsu yang tak dikendalikan. Hawa nafsu yang hari demi hari dimanjakan, hari demi hari ditumpuk, maka lama-lama jadi bukit yang akan membuat kita tak berdaya. Hawa nafsu dan iblis itu seperti seseorang yang lapar dan butuh teman ngobrol. Jika kita malah memberinya makan dan mengajaknya asyik ngobrol, dia akan merangkul kita demikian erat, menikam kita dari belakang dan menolak sujud pada hati nurani kita. Disanalah, ia menggantikan segalanya, menggantikan kebaikan, moralitas, Allah dan rasa kemanusiaan. Ia menjelma kesombongan kita, keserakahan kita, kezaliman kita.

Tapi, selama kita tak memilih untuk terus menyalakan api iblis dalam diri, maka dengan sendirinya ia akan padam. Iblis itu bukan attack, tapi demand, request. Keadaan dirilah yang senantiasa harus ditaklukkan, dipadamkan, diatur. Karena manusia hidup dalam proses memahami dan mengatur dirinya sendiri. Orang berkelahi karena ia tak mampu menahan marah. Atau ada orang mati karena ia memutuskan untuk tak makan selama berhari-hari. Malam ini begadang atau tidak, tentu saja tergantung kita. Kita punya pilihan bebas, tapi memerlukan tanggung jawab, mengandung resiko.

Walhasil, iblis adalah potensi manusia yang cenderung merusak. Ketidakmampuan untuk me-manage potensi itu akan membuat kita melakukan hal-hal buruk. Kesadaran akan akibat disertai pemahaman moral yang baik dapat mencegah kita melakukan hal-hal buruk. Jika mencuri itu mengakibatkan diri dan orang lain rugi, maka tak perlu. Jika korupsi itu dapat merugikan dan menyengsarakan banyak orang, maka hentikan. Iblis bukan the other, ia adalah bagian dari diri kita sendiri, dahaga hasrat kita, runcing hawa nafsu kita. Sepanjang hidup, kita terus berkelahi dengannya. Sepanjang hidup, kita harus mengaturnya, mampu menahan diri, mengalahkannya…

Sumedang, Juli 2008
Read more!

Malam

Tuesday, February 19, 2008

Sajak Tedi Taufiqrahman
Ini Malam Punya Siapa

ini malam punya siapa
asmara merindu pada satu ketika
malam dingin menyuguhkan angin

beserta raksukan sepi dan nyeri
asmara merindu saat bilamana
tubuh gontai lunglai tak bertepi

….

putus.

110606
Read more!

Atheis

Tuesday, December 11, 2007

Atheis
Oleh M Dawam Rahardjo

KAKAK kami Suparman kini tinggal di Jakarta menjelang masa pensiun. Tapi ia tidak terikat. Karena ia mengelola sebuah perusahaan konsultan sendiri, dengan karyawan sekitar 50 orang. Ia adalah seorang arsitek lulusan ITB. Setelah lulus, ia melamar sebagai arsitek di sebuah perusahaan. Setelah mendapatkan pengalaman, ia mendirikan perusahaan sendiri bersama beberapa orang kawannya. Usahanya ini boleh dikatakan maju, berkat kegiatan pembangunan di Ibu Kota.

Kakak kami itu ialah saudara tertua dalam keluarga kami yang tinggal di sebuah desa bernama Jatiwarno di Wonogiri. Sekitar 30 kilometer dari Kota Solo. Daerah tempat tinggal kami itu dikenal kering. Dulu sering kali menjadi berita di koran karena kelaparan. Di zaman kolonial pernah terjadi busung lapar. Kini Wonogiri tidak lagi kering seperti dulu karena di situ dibangun waduk Gajah Mungkur. Sekarang sudah ada ladang-ladang ubi kayu dan jagung selain sawah padi. Waduk ini juga menjadi pusat pariwisata yang dikunjungi terutama oleh orang-orang Solo. Keluarga kami, keluarga Parto Sentono lebih populer dipanggil Kiai Parto adalah sebuah keluarga yang religius. Ayah kami itu adalah seorang petani yang juga berperan sebagai ulama lokal karena ia adalah santri lulusan Mamba’ul Ulum dan tinggal di pesantren Jamsaren. Jadi ia pernah berguru kepada KH Abu Amar, Ulama Solo yang masyhur itu. Itulah sebabnya Kiai Parto mengirim kami, anak-anaknya, ke pesantren sebagai lembaga pendidikan.

Mas Parman sebagai anak tertua dikirim ke Gontor Ponorogo yang jaraknya tidak jauh dari desa kami. Kakak saya yang kedua Muhammad Ikhsan dipondokkan ke Pesantren Pabelan di bawah pimpinan Kiai Haji Hamam Ja’far. Saya sendiri sebagai anak ketiga cukup bersekolah di Madrasah Al-Islam, Honggowongso, Solo. Jadi saya punya dua orang adik. Yang pertama, dikirim ke Tebu Ireng, sedangkan adik saya yang paling bontot disuruh belajar ke madrasah Mu’alimat Muhammadiyah, Yogyakarta.

Walaupun semuanya berlatar belakang pendidikan pesantren, kami semua mempunyai profesi yang berbeda-beda, misalnya Mas Parman menjadi seorang arsitek, sedangkan saya sendiri menjadi petani jagung dan ubi kayu meneruskan pekerjaan bapak. Karena itulah, saya adalah anak yang paling dekat dengan keluarga dan menyelenggarakan pertemuan halalbihalal setiap tahun dengan keluarga.

Bapak merasa sangat bangga anaknya bisa masuk ke pondok modern Gontor. Mas Parman sendiri juga merasa mantap berguru dengan Kiai Zarkasi dan Kiai Sahal. Di masa sekolah dasar, kami semua dididik langsung oleh bapak kami. Mas Parman ternyata berhasil menjadi seorang santri yang cerdas. Bapak sangat berharap kelak Mas Parman menjadi seorang ulama modern. Bapak memang tidak mengikuti perkembangan anaknya itu sehingga ia merasa terkejut ketika pada suatu hari ia berkunjung ke Gontor, anaknya itu ternyata sudah tidak lagi bersekolah di situ. Namun sebentar kemudian, ia mendengar di mana anaknya berada. Ternyata Mas Parman yang pandai matematika itu ikut ujian SMP negeri dan lulus dengan nilai yang sangat baik. Ia kemudian melamar untuk bersekolah di Solo dan diterima di SMA 2 atau SMA B yang terletak di Banjar Sari. Sekolahnya itu berdekatan dengan SMA 1 jurusan sastra budaya. Sehingga ia banyak bergaul dengan pelajar-pelajar sastra. Walaupun belajar ilmu eksakta, Mas Parman ternyata punya bakat seni. Ia bisa melukis dan membuat puisi. Ia ikut di klub sastra remaja yaitu sastra remaja Harian Nasional di Yogya. Bapak tidak bertanya banyak kepada anak sulungnya itu. Walaupun ia merasa sangat kecewa dan agak marah karena Mas Parman telah mengambil keputusan besar tanpa berkonsultasi dengan Bapak dulu. Saya mewakili keluarga menanyakan perihal keputusannya itu kepada Mas Parman. “Mas, kenapa tidak minta izin bapak dulu ketika Mas keluar dari Gontor?,” tanyaku pada suatu hari.

“Kalau aku bilang dulu pada bapak, pasti tidak dikasih izin,” jawabnya.

“Kenapa pula Mas berani mengambil keputusan besar itu?” tanyaku lagi. “Aku ternyata tidak betah tinggal di pondok. Aku merasa pesantren ini adalah sebuah masyarakat buatan. Kami hidup menyendiri, dilarang bergaul dengan penduduk desa. Kami di pondok menganggap diri sebagai keluarga ndoro,” jawabnya lagi.

“Itu kan karena kepentingan para santri sendiri supaya tidak terkontaminasi oleh pengaruh luar,” jelas saya.

“Tapi hidup kan menjadi artifisial, santri hanya diajar sesuatu yang baik tapi tidak mengetahui dunia nyata yang tidak terlalu bersih. Malah banyak kotornya.”

“Kalau hanya itu alasannya, mengapa Mas tetap mengambil keputusan?” tanya saya.

“Terus terang saja, aku sendiri jenuh dan bosan hidup di pondok. Aku memahami jika sebagian santri melakukan homo bahkan mencuri-curi bergaul dengan perempuan di luar pondok.”

“Nah, itulah akibatnya kalau para santri tidak disiplin.”

“Pokoknya aku bosan, yang lebih mendasar lagi aku tidak bisa menerima pelajaran-pelajaran agama. Kupikir pendidikan semacam itu tidak berguna, karena tidak membekali santri untuk bisa hidup dalam realitas yang sering keras itu di luar dunia pesantren. Jadi apa gunanya aku bersusah payah mencapai kelulusan. Itulah maka aku mengambil keputusan untuk pindah sekolah.”

“Mas Ikhsan ternyata senang nyantri di Pabelan,” ujar saya.

“O… Pabelan itu beda dengan Gontor, Kiainya juga alumni Gontor, tapi ia bisa berbeda dengan Gontor. Santri Pabelan bebas bergaul bahkan diharuskan. Kiai Hamam bisa menerima saran dari LP3ES untuk menyelenggarakan program lingkungan hidup. Pesantren bahkan menyediakan air bersih yang diolah dari kali Pabelan untuk penduduk desa. Kiai Hamam juga membuat pemandian umum desa. Sehingga santri-santrinya bisa bergaul dengan penduduk desa setiap pagi sore sambil mandi bersama.”

Mas Parman kemudian melanjutkan perubahan di dalam hidupnya. “Har, aku ingin memberitahukan padamu, perubahan pola hidupku di Solo. Aku sekarang sudah tidak menjalankan salat, juga puasa Ramadan,” katanya jujur.

“Mas, apakah ini tidak terlalu jauh? Ibu bapak pasti akan marah besar sama Mas,” jawab saya.

“Ya jangan dilaporkan ke ibu bapak, tapi ceritakan saja apa adanya kepada Mas Ikhsan, barangkali ia bisa menerima dengan kepala dingin.” Saya kemudian berpisah dengan Mas Parman dan melaksanakan wasiatnya. Tidak henti-hentinya saya berpikir dan merenung, sehingga memberatkan pikiran saya. Sebagai adik kandung, saya menyayangkan keputusan dan langkah radikal Mas Parman. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa sehingga hanya bisa menerima dengan sedih yang menjadi unek-unek terus-menerus. Sebab, saya pun juga ingin jawaban terhadap masalah-masalah yang ditimbulkan keputusan kakak saya itu. Saya khawatir sikapnya itu akan memengaruhi kakak dan adikku yang lainnya sehingga unek-unek itu saya sampaikan kepada Mas Ikhsan. Ia juga tampak terkejut tapi hanya terdiam saja tanpa reaksi. Karena itu aku minta kepada Mas Ikhsan untuk bertemu sendiri dengan Mas Parman.

Akhirnya, pada suatu hari, Mas Ikhsan menyempatkan diri untuk bertemu langsung dengan Mas Parman di Solo. Ia tinggal di daerah Manahan. Berikut ini adalah laporan Mas Ikhsan kepadaku dari hasil pertemuannya dengan Mas Parman. “Aku diajak Mas Parman pada suatu malam di suatu warung hik yang masyhur dengan jualan wedang ronde dan makanan tradisional Surakarta. Mas Parman memang romantis. Dia tidak ragu mengajakku menikmati suasana Solo di waktu malam yang dirasakan rakyat jelata. Terkesan olehku bahwa ia memang merakyat hidupnya. Karena setiap kali kami berbincang-bincang, selalu saja ada orang yang menyapa. Ada juga para pengemis dan gelandangan. Di warung hik itulah aku mencoba secara tenang menanyakan banyak hal kepada Mas Parman.

“Mas, aku sudah mendengar semua cerita mengenai dirimu dari adik kita, Haryono, terus terang saja aku terkejut. Timbul seribu satu pertanyaan dalam pikiranku, aku masih seorang santri yang baik dan terus bercita-cita menjadi ulama pemikir modern. Sebagai adik, aku tidak bisa memahami sikapmu. Bahkan aku tidak percaya dengan cerita Haryono, aku juga sudah tanya kepada Haryono bagaimana pandangannya. Tapi ia tidak banyak memberi penjelasan sehingga aku harus langsung bertemu denganmu. Mohon jangan tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan dan komentarku. Aku bahkan ingin belajar kepada Mas, yang memiliki sebuah pengalaman dramatis.”

“O… boleh saja, jadi aku sekarang sudah tidak menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim.”

“Kalau begitu, Mas telah murtad?” tanyaku.

“Ya, sebelum hukuman murtad dijatuhkan kepadaku, aku lebih baik keluar saja dulu dari Islam. Sekarang siapa pun juga tidak berhak menghakimiku.”

“O… begitu, aku pun tidak akan menghakimimu. Cuma aku ingin bertanya apakah Mas telah meninggalkan seluruh akidah Islam?” tanyaku ingin tahu.

“Ya, aku sekarang seorang atheis, aku sudah tidak percaya kepada Tuhan.”

“Lalu status Mas sekarang sebagai apa?” tanyaku.

“Aku sudah menjadi humanis. Aku bercita-cita ingin menjadi pemikir bebas.”

“Untuk menjadi orang seperti itu kan tidak perlu meninggalkan akidah. Islam memberi kebebasan.”

“Ya aku tahu, aku hanya ingin mengatakan bahwa selama di Gontor aku tidak pernah memperoleh penjelasan yang memuaskan mengenai Tuhan. Dan mengapa orang harus percaya kepada Tuhan. Aku ingin bebas dari belenggu akal dan aku harus bisa mendasarkan perilakuku berdasarkan rasionalitas. Tidak dibelenggu iman dan syariat. Sekarang ini aku merasakan diriku menjadi orang bebas, tanpa belenggu. Ketika menjadi orang Islam aku merasa terjatuh ke dalam belenggu. Sekarang ini aku merasa mengalami pencerahan.”

“Mas kan tahu bahwa Islam itu mengajarkan perbuatan baik berdasarkan iman. Jadi manusia memerlukan Tuhan untuk bisa berbuat baik.”

“Inilah yang saya tidak setujui dalam Islam. Seperti kamu tahu sendiri, perbuatan baik itu tidak diakui Tuhan jika tidak didasarkan kepada iman. Mengapa harus begitu. Buddha Gautama mengajarkan perbuatan-perbuatan baik tanpa mensyaratkan iman kepada-Nya. Demikian pula Konghucu. Aku suka dengan dua agama yang kita sebut sebagai agama bumi itu. Aku ingin menjadi orang baik tanpa iman. Kalau mendengar keteranganmu itu terkesan olehku bahwa Tuhan itu adalah ciptaan manusia sendiri, bukannya sebaliknya.”

“Astaghfirullahal’adzim.”

“Dalam kenyataannya, agama itu hanyalah candu yang membius dan membuat lupa terhadap kesengsaraan dan penindasan yang menimpa mereka.”

“Berlindung aku dari bisikan semacam itu.”

“Sorry ya, jangan anggap aku sesat. Semuanya itu sudah kupikirkan dan kurenungkan dalam-dalam. Pokoknya aku ingin bebas menjadi humanis.”

“Tapi aku yakin bahwa Islam akan membawaku ke sana, tapi sampean punya pendapat yang lain dan aku ingin belajar darimu sebagai seorang kakak tertua.”

“Kamu tidak perlu jawaban verbal dariku. Lihat saja perbuatanku. Bukankah agamamu mengajarkan bahwa Tuhan itu akan bisa ditemui dengan perbuatan baik di dunia ini.”

“Kalau gitu, Mas masih percaya kepada Tuhan.”

“Tidak! Aku tidak bisa percaya pada adanya Tuhan. Aku hanya ingin berbuat baik kepada sesama manusia berdasarkan alasan-alasan yang rasional saja.”

“Wah, menurutku manusia yang percaya kepada Tuhan itu tentu akan terdorong untuk berbuat baik, karena itu apa salahnya kita percaya akan adanya Tuhan.”

“Ya terserah. Cuma saya tidak mau percaya kepada Tuhan yang diciptakan manusia. Tuhan begini, sama saja dengan dewa-dewa Hindu maupun Yunani.”

Begitulah Mas Ikhsan menceritakan kembali dialognya. “Lalu bagaimana tanggapan dan sikapmu?”

“Lakumdinukum waliyadin, biar dia percaya apa yang ia percayai dan kita percaya apa yang kita percayai.”

“Lalu bagaimana pandanganmu mengenai kakak kita itu?”

“Aku tidak menganggap dia orang sesat. Ia hanya memilih suatu jalan hidup. Dalam hatiku, aku percaya bahwa Mas Suparman itu sebetulnya percaya kepada Tuhan. Cuma dia tidak mau merumuskan apa Tuhan itu. Bukankah agama kita mengajarkan bahwa apa pun yang kita pikirkan mengenai Tuhan, itu bukan Tuhan. Jadi Tuhan itu diimani saja, tidak perlu dirasionalkan. Walaupun teori-teori mengenai Tuhan boleh saja dikemukakan. Biar dia tidak percaya kepada Tuhan, asalkan ia berbuat baik dan melaksanakan ajaran Islam menurut ukuran-ukuran kita. Tidak perlu kita mensyaratkan iman kepadanya.”

Mas Suparman yang kini sudah menjelang masa pensiun itu sekitar enam puluh lima tahunan nampaknya, paling tidak menurut kesan saya, telah mencapai apa yang ia cita-citakan berdasarkan kebebasan yang ia yakini. Saya berpendapat bahwa pada dasarnya, kakak kami itu masih seorang muslim yang baik. Hidupnya sesuai dengan sepuluh wasiat Tuhan yang didendangkan Iin dan Jaka Bimbo.

Pertama aku masih percaya bahwa ia masih punya iman dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Seperti kata Jalaludin Rumi dan Al Halaj, ia pada akhirnya akan memperoleh pengertian Tuhan yang sebetulnya melekat pada dirinya sendiri jika ia masih tetap bisa menjalankan hidup yang benar berarti Allah masih membimbingnya. Cuma, dia tidak tahu dan tidak mengaku. Malah saya berpendapat bahwa sikap Mas Parman itulah yang mencerminkan Tauhid yang semurni-murninya. Wallahu’alam. Kedua, ia berbuat baik kepada ibu bapaknya, ia tidak pernah mau menyakiti kedua orang tuanya. Harus kami akui bahwa di antara kami, Mas Parmanlah yang paling banyak membantu orang tua kami. Ketiga, ia bisa menjaga harta anak-anak yatim, yaitu adik-adiknya, ia tidak mau mengambil bagian warisannya. Ia serahkan semuanya kepada kita. Mas Parman juga membuat yayasan yang menampung anak-anak yatim. Tutur katanya tidak pernah menyakiti orang lain, ia selalu menjaga diri dari perbuatan-perbuatan tercela.*** [Sumber Media Indonesia, Edisi 09/02/2007]
Read more!

Berkumandang

Thursday, September 20, 2007

--Ketika Anjing dan Bagong Berkumandang—
Shinta

“Hei, rek kamana sia anjing?!” “Eh, si Bagong.. kamana weh..”. wakz..!! sebutan aneh untuk umat manusia yang tak lagi mulia. Sudah siapkah anda disamakan dengan Anjing dan bagong?

Elo, gue, mereka, kita semua tau (bahkan ampe pedalaman hutan pun tau) klo kata anjing adalah sebutan yang pantas disandang oleh makhluk yang suka menjilat,mengendus,dan menjulurkan lidahnya serta menggoyang-goyangkan ekornya. Itulah yang disebut dengan anjing. Sedangkan Bangong—bukan semata-mata nama tokoh dalam pewayangan—adalah nama lain dari Babi-Pig-etc. Sajabana.

Nah, ketika ke-2 nama tersebut dialihkan kepada makhluk yang wujudnya 180 derajat beda ama yang asli punya nama yakni manusia yang punya akal en pikiran. So, gimana pendapat elo?!

Klo elo-elo punya akal, jelas nolak menyandang 2 ‘gelar’ tersebut. Mosok iyo disamain ama anjing en bagong? Kecuali elo pada memang menginginkan kedudukan yang sama anjing dan bagong dihadapan manusia. Yah, jadinya manusia [Ingdonesyia] kelakuannya banyak yang mirip anjing en bagong.. ga bakalan maju-maju atuh klo pujian tiap harinya anjing en bagong. Tul?!

Udah jadi kebiasaan. Itulah alasan mereka yang senantiasa membubuhi tiap percakapan dengan 2 ‘gelar’ tersebut. Padahal, jelas-jelas kita diciptakan oleh Tuhan dengan kelebihan akal dan kemuliaan yang jauh lebih tinggi. Tapi kenapa manusia itu—yang telah diberi kemuliaan oleh Tuhan—malah merendahkan spesies mereka sendiri? (Tanya kenapaa..)

Budaya penyebutan 2 makhluk tersebut benar-benar tak terbendung lagi. Seolah-olah sudah menjadi tradisi, khususnya di tanah Sunda. Bahkan ampe bocah 4-5 tahun sudah fasih ‘pengucapan’ tersebut!

Ah, itu mah urusan aing! Emang, sebutan anjing, bagong dan cs-nya tidak ada yang melarang. Bahkan Tuhan pun tidak melarang! (hanya saja sebutan ‘halus’ tesebut tidak diperbolehkan. Lho?!)

Lha iya, apa jadinya klo sebutan anjing cs ma Bapak SBY yang ngucapin? Mending klo manggilnya ke Bush “.... anjing Bush telah memberi kita...”, tapi klo panggilan anjing itu ditujukan kepada rakyat Indonesia tercintrong ini; “Wahai anjing-anjing Indonesia.. bla..bla..bla..” Hah! Apa kita tidak akan marah? (klo gak marah, berarti elo pada otaknya udah dimakan ama anjing en bagong beneran..).

Yang layak dan pantas disebut anjing bukan teman-teman kita, tetangga, palagi sodara. Tapi yang pantas menyandang gelar tersebut adalah orang yang bener-bener gak punya hati en pikiran macam Bush! (mantabh..) seperti juga para pejabat dan oknum-oknum pemerintah yang gak pake hati dan akal dalam menjalani amanah rakyat. Bahkan,mungkin,kita sendiri yang telah hilang akal dan moralnya. Setuju?!

Atas nama Anjing dan Bagong yang terdiskriminasi. Stop! Penggunaan gelar anjing dan bagong cs!!

Kamis, 19/02/2004. with a little modification..
Read more!

Negeri

Friday, August 3, 2007

Di Negeri Langit
Oleh Shinta

Matahari pagi ini masih malu-malu untuk keluar dari peraduannya. Hh... betapa membosankan. Seperti hari-hari yang lalu; bangun pagi, menggerakkan badan barang sejenak, menghirup udara pagi yang dingin, mandi, minum kopi pahit yang kental, berangkat kerja, dan ketika matahari telah terbenam usailah sudah pekerjaan hari itu. Pulang, dan tertidur di sofa.. begitulah keseharianku, tak ada yang berubah. Membosankan bukan?!

Demikian juga hari ini, aku tak mengharapkan perubahan yang berarti, entah mengapa. Bukan berarti aku menikmati ini semua, tapi siapa yang peduli?! Takkan ada orang yang peduli di kota yang semakin lama semakin menyesakkan ini.

Dan seperti hari-hari kemarin pula, manajer tempat aku bekerja marah-marah tak karuan. Ada saja yang dikeluhkannya atau yang dirasanya kurang berkenan. Salah-salah orang yang tak tahu apa-apa malah kena marah. Tapi apa peduliku?! Tak ada. Yang penting aku tak pernah kena marah dan aku tak pernah mau ikut campur urusan orang lain, termasuk dengan gosip yang sering disebar para karyawan tentang bapak manajer yang [katanya] homo.

Hari ini, seperti pula hari-hari kemarin, Tina, teman sekantorku yang kata orang cantik dan sexy—tapi menurutku norak dan biasa saja—mengirimkan surat kepadaku. Kata teman kantor yang lain itu surat cinta, tapi bagiku itu hanyalah sebuah surat yang berisi pemujaan terhadap manusia. Ya, akulah manusia yang dia puja. Sehebat itukah aku dimatanya hingga dia memujaku sedemikian rupa?! Selayaknya orang yang dipuja, maka aku berikan apa yang dia inginkan—tanpa ada niat apapun. Tapi jujur, aku mulai muak dengan ini semua.

Pekerjaanku hari ini, tak ada bedanya dengan hari-hari kemarin. Tetap menumpuk dan merengek agar segera diselesaikan. Padahal aku sudah ngebut agar bisa menyelesaikan pekerjaan hari ini juga. Tapi nyatanya?! Seperti hari-hari kemarin pula, tak kunjung selesai. Entah mengapa.

Dan waktu, sama seperti kemarin, sebulan yang lalu, setahun yang lalu, bahkan bertahun-tahun yang lalu. Tetap sama. 24 jam sehari, 60 menit perjam, 60 detik permenit, sama. Tak ada yang beda. Tapi hari ini seperti hari-hari kemarin, waktiu berjalan lebih cepat, seolah-olah berlari. Padahal baru tadi pagi matahari keluar tapi kini telah berganti dengan bulan yang berwajah muram. Terlalu cepat..

Aneh. Entah mengapa kali ini, tak seperti hari-hari kemarin, suara adzan maghrib terdengar syahdu di pendengaran. Tanpa kusadari, aku sudah berada dipelataran masjid depan rumahku. Padahal kejadian seperti ini berusaha kuhindari. Capek, kilahku.

Aneh. Ya, aneh. Hanya kata itu yang ada dalam pikiranku. Ini berbeda dengan hari-hari kemarin. Mungkinkah aku menginginkan perubahan seperti ini?! Entahlah. Tapi keragu-raguan masihlah ada dalam pikiranku. Apa yang aku lakukan?! Tapi aku harus teguh. Ya, teguh. Buang jauh-jauh pikiran itu sejauh mungkin, aku berada di depan masjid hari ini. Sebuah perubahan besar. Tapi... mau tak mau pikiran itu bersemayam pula dalam hati ini, mungkinkah aku akan mati?!

24012003

20062007
Read more!

Mati...!!

Thursday, July 19, 2007

Aktivis Itu Mati
Oleh Badru Tamam Mifka

Setelah dua puluh satu hari menghilang,
Magdalena ditemukan mati mengambang di sungai.
Mayatnya tersangkut di akar yang menjorok ke arus sungai.
Baunya menyengat mengundang lalat.
Perutnya kembung terisi penuh air,
kening perempuan itu memar dan tengkoraknya retak,
seperti dipukul benda tumpul—sangat keras.


Magdalena Agatha, aktivis kampus itu, kian populer di kalangan mahasiswa bahkan media massa setelah dikaitkan dengan isu pembunuhannya yang belakangan bikin kasak-kusuk pihak kepolisian, aktivis mahasiswa dan pejabat kampus. Setiap pihak saling mencurigai, menuduh, dan membantah soal matinya mahasiswa semester delapan itu. Bagi aktivis mahasiswa, Magdalena diduga dibunuh oleh pejabat kampus yang mungkin tak menyukai kritik.

Dugaan itu melebar di kalangan mahasiswa karena seminggu belakang, sebelum kematian Magdalena, pihak birokrat kampus tengah kewalahan menerima rentetan pertanyaan dari wartawan perihal kasus pelecehan seksual, korupsi dan pemalsuan gelar di jajaran pejabat kampus yang belakangan digembor-gemborkan Magdalena dan kawan-kawannya. Kecurigaan dikalangan mahasiswa itu akhirnya mendorong detektif dan polisi mengarahkan penyelidikannya ke wilayah pejabat kampus.

“Banyak isu-isu murahan yang digulirkan kelompok tertentu untuk menjatuhkan saya.” Ujar Rektor. “Tetapi soal pemalsuan gelar yang dilakukan salah seorang Dekan, kami akui ada di kampus ini. Dalam waktu dekat, kami memang akan berusaha menyelesaikannya.”

Ketika itu, memang Magdalena dan beberapa kawannya secara intens menggerakan para mahasiswa dalam aksi demonstrasi dan menerbitkan bulletin untuk mensosialisaikan isu, aspirasi dan pernyataan sikap. Buntut dari aksi ini, ketegangan antara pejabat kampus dengan kelompok mahasiswa kian meruncing. Audiensi pun digelar. Disana, Magdalena yang sangat kritis diantara kelompok demonstran, menyerang para pejabat dengan data-data dan pertanyaan yang membuat merah semua kuping pejabat. Dan dua hari setelah audiensi, Magdalena dinyatakan hilang disaat audiensi tahap kedua akan dilakukan. Karuan kawan-kawannya sibuk mencari. Telepon genggamnya tak bisa dihubungi dan, menurut keterangan ibunya, sudah empat hari Magdalena tak pulang ke rumah. Padahal, terakhir kali menelepon, Magdalena ngomong akan pulang.

Beberapa hari setelah berita kematian Magdalena, kepolisian setempat mengeluarkan pernyataan hilangnya Magdalena, seraya meminta masyarakat dan mahasiswa membantu mencarinya. Catatan panjang tentang data pribadi Magdalena segera disebarluaskan ke masyarakat dan media massa. Setelah pencarian selama lima hari tak membuahkan hasil, muncullah kecurigaan dari kelompok demonstran bahwa Magdalena diculik! Para aktivis mahasiswa mencoba mendesak para pejabat kampus tentang hilangnya Magdalena dan pihak kepolisian pun turun tangan.

Dalam hitungan hari ke dua puluh satu, akhirnya terdengar kabar buruk bahwa mayat Magdalena ditemukan mengambang di sungai, ditemukan seorang pemulung sampah. Polisi segera datang ke tampat kejadian perkara (TKP) beberapa menit kemudian. Detektif dan media mulai bekerjasama lebih erat. Tuduhan dan bantahan kian bersahutan tajam. Tuduh sana, bantah sini. Gosip sana, gosip sini. Spekulasi berkecambaah bak cendawan di musim hujan. Tak ayal, kekisruhan di tubuh kampus yang dirundung kasus ini jadi lahan segar bagi pekerja-pekerja di media massa. Banyak orang di wawancarai wartawan, polisi juga. Sampai akhirnya serbuan wartawan secara besar-besaran merangsak ke tangga-tangga para pejabat. Benarkah para pejabat kampus merencanakan pembunuhan terhadap Magdalena?

Awalnya pihak pejabat kampus bungkam seribu bahasa. Tak ada yang berkenan angkat bicara. Namun, setelah didesak wartawan-wartawan yang keras kepala, pihak pejabat kampus mau bicara lagi yang kini diwakili Pembantu Rektor.

“Apalagi ini? Ini sudah fitnah!” dalihnya gemetar menahan murka ketika seorang wartawan menodongnya dengan banyak pertanyaan terkait tuduhan mahasiswa atas keterlibatan jajaran pejabat kampus dalam kematian Magdalena.

“Demonstrasi yang mereka lakukan dengan banyak isu itu hanya strategi politis kelompok mahasiswa yang turut dipolitisasi oleh pihak tertentu untuk menjatuhkan Pak Rektor. Maklum, sebentar lagi ada pemilihan raktor. Perang citra, pembunuhan karakter; Anda tahu kan? Nah, mengeksploitasi kejadian matinya aktivis itu juga jadi cara kepepet kelompok mahasiswa untuk menjatuhkan kedudukan dan citra kami hanya karena cara demonstrasi sudah tak mempan lagi. Tak efektif lagi!” ucapnya pula panjang lebar.

Akibat penyataan pedas Purek yang esok harinya dimuat di koran lokal itu, para aktivis mahasiswa kian berang melakukan aksi demonstrasi di depan gedung rektorat.

“Ini aksi lanjutan dari isu-isu kemarin. Kami akan menggerakan massa yang lebih besar karena kecurigaan kami cukup kuat, Magdalena diculik dan dibunuh!” ujar Bowo Rowo, korlap baru pengganti Magdalena, ketika diwawancarai wartawan disela-sela aksinya.

“Tetapi mengenai penyelidikan terkait pembunuhan Magdalena selanjutnya, kami sudah menyerahkan sepenuhnya pada pihak kepolisian. Kami akan menunggu. Jika hasilnya benar-benar positif terbukti bahwa jajaran pejabat kampus yang merencanakan pembunuhan ini, kami tak segan akan menyeret mereka ke pengadilan dengan kasus berlapis, yaitu korupsi, pelecehan seksual, pemalsuan gelar dan pembunuhan! Jauh hari kami telah menyerahkan laporan dan keterangan kepada pihak kepolisian tentang kasus-kasus itu. ”

Namun, soal siapa pembunuh Magdalena, para aktivis kampus kembali dikejutkan soal keterangan Lydia, kawan dekat Magdalena. Dia memberi keterangan tentang pertengkaran Magdalena dengan mantan pacarnya, Hans. Lebih lanjut, Lydia mengatakan bahwa Magdalena pernah menerima surat yang berisi ancaman pembunuhan dari Hans.

“Kenapa Hans mengancam ingin membunuh Magdalena?”

“Pertama, sakit hati. Hubungan mereka berantakkan. Hans menuntut Magdalena berhenti jadi aktivis. Ya Magdalena tak mau. Mereka bertengkar. Sampai saling tampar juga. Kedua, Hans kalah dalam pemilihan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa. Ketika itu, tim suksesi Hans mengangkat isu adanya kecurangan dalam pemilihan. Kini, setelah Magdalena tak menjabat lagi, kebencian Hans masih tetap ada. Terang saja, rugi jutaan rupiah dalam proyek pencalonan.”

“Hah?!”

Bak gula diburu semut, Hans pun jadi bulan-bulanan wartawan dan tim penyidik dari polisi. Dia diperisa berkali-kali untuk dimintai keterangan.

“Tidak benar. Ayo, mana buktinya? Ada saksi? Surat tempo lalu hanya gertakku saja. Maklum, aku lagi kalap. Tapi tak serius. Itu pun kejadiannya telah lama lewat. Saya juga sudah mulai lupa. Mana mungkin saya membunuh Magdalena.” bela Hans dengan suara gemetar.

Belum dingin isu Hans, muncul spekulasi baru menambah daftar panjang pelaku pembunuhan Magdalena. Orang yang kena sial kemudian dan mendapat pemeriksaan intensif dari kepolisian adalah Buma. Ia teman dekat Magdalena. Tak pelak, penrhatian nyamuk pers segera tertuju kea arah Buma.

“Buma kan ketua organisasi GIMMI yang dedengkotnya kini menguasai 75 % birokrasi kampus. Secara politis, Buma menjadi miniatur kepentingan mereka di tingkatan mahasiswa. Buma punya kewajiban berbakti pada leluhur…Tentu saja, hal itu dibumbui dengan permasalahn pribadi Buma dengan Magdalena yang katanya berbuah dendam Buma yang tak reda…”

“Maksudmu?”
“Buma kan pernah murka karena ditolak cintanya sama Magdalena.
“Duh, motif asmara lagi…”

“Tak hanya itu, Buma memaksa Magdalena untuk bergabung dengan GIMMI dan menghentikan aktivitas demonstrasinya di kampus. Terjadilah perang mulut dan Magdalena sampai kini bersitegang dengan Buma karena merasa dilecehkan prinsipnya. Mereka bermusuhan, dan Buma tak menerima. Mereka kini tak berhubungan lagi, mungkin bermusuhan. Tak sampai disitu, Magdalena pernah membongkar kasus korupsi ketika Buma menjabat Presiden Badan Eksekutif sebelum periode Magdalena.”

“Jadi kamu menduga bahwa Buma yang membunuh Magdalena? Jadi, lebih dengan alasan politis atau pribadi?”

“Entahlah. Meneketehe. Pokoknya, setelah itu Magdalena sering mendapat terror SMS. Isinya ada ancaman, hinaan seperti keras kepala, aktivis reaksioner, angkuh, dan sebagainya. Aku juga awalnya menganggap ancaman itu hanya gertakan orang yang lagi emosi. Alasannya bisa politis, atau juga murni pribadi.”

Buma pun diburu dan ditetapkan jadi salah satu tersangka. Lantas, benarkah Buma yang membunuh Magdalena?

“No comment. Tunggu saja nanti hasil penyidikan polisi.” Komentar Buma singkat. Aneka tuduhan dan ragam analisa politik masih dibentur-bentur tak henti-hentinya. Menyadari masih sulitnya mencari titik terang, kepolisian kian giat membuat manuver-manuver. Yang menarik, mereka membentuk gugus tugas penyelidikan dengan nama Magda Red Team, yang terdiri dari 15 petugas. Tak hanya itu, kalangan mahasiswa tak mau kalah, muncullah berbagai gerakan-gerakan baru yang turut mewarnai ketegangan kasus. Ada MIMBAR (Mahasiswa Intelektual Mesjid Baru) yang begitu hebat mencemooh dosa-dosa pergerakan mahasiwa dan para pejabat kampus dengan setumpuk ayat-ayat suci. Solusi tobat tak luput dianjurkan. Ada juga JeTPAM (Jelata Tempel Pamplet), barisan oposan, yang tak bosan-bosan membuta teror bahasa pamplet yang spontan dan sarkas. Tak mau kalah, muncul sekelompok mahasiswa yang mendeklarasikan gerakan baru yang bernama JABLAY (Jaringan Buka Layar) yang kerjanya super-sibuk mengolah data-data, semacam tim investigasi sukarela di kalangan mahasiswa dalam berbagai kasus di kampus. Semuanya berdesakan, bersilangan diantara banyak isu-isu yang memadati ingatan orang.

Hari-hari berjalan masih penuh misteri. Setiap orang masih menebak-nebak siapa pembunuh Magdalena sebenarnya. Bahkan, di sebagian mahasiswa ada ada taruhan uang. Ada judi. Ada yang pasang pejabat kampus sebagai pelaku. Ada yang berani bertaruh pegang Hans sebagai pembunuh yang dipicu soal pribadi dan kekacauan asmara. Ada yang pasang Buma. Ada juga yang mengusulkan pilihan alternatif bahwa pembunuh bisa semuanya berdasar kecurigaan secara politis tentang mata rantai Rektor-Buma-Hans, maksudnya ide jahat dari pihak pejabat kampus dan eksekutornya dari mahasiswa yang barangkali menyewa preman. Kesepakatan akhir, ada tiga pihak yang akan bertaruh tentang siapa pelaku sebenarnya: pejabat kampus—siapapun eksekutornya—atau Hans—siapapun eksekutornya—atau Buma—siapapun eksekutornya. Soal adanya konspirasi, itu soal lain, bisa kemudian ditarik otak pembunuhannya. Mereka pun harap-harap cemas menunggu hasil penyelidikan polisi dan kawan-kawan JABLAY. Yang kelak menang, lumayan dengan taruhan 100.00 buat tambah-tambah bayar kostan atau traktir pacar makan siang.

Sementara demonstrasi terus merangsak dari hari ke hari. Karton dibanjiri tulisan. Semuanya menghujat pejabat kampus. Spanduk-spanduk di pasang. Ada tentang belasungkawa. Ada juga tentang kritik atas kecurangan moral, kegelapan intelektual dan matinya rasa kemanusiaan pejabat kampus. Isinya macam-macam. Setiap pihak kalang-kabut mengurusi masalahnya sendiri-sendiri. Hari berganti hari. Minggu juga. Bulan juga. Pihak kepolisian kian intensif melancarkan penyidikan di setiap sudut tempat. Mereka tak lelah menginterogasi saksi dan orang-orang yang dicurigai. Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak polisi. Siapa pembunuh Magdalena?

Mereka bertukar spekulasi, menghimpun data-data, bertukar pengalaman dan teori tentang proses penyidikan. Mereka bekerja keras menemukan titik terang lewat data waktu, tempat kejadian, menimbang alibi semua pihak dan seterusnya dan seterusnya. Polisi menduga Magdalena dibuang pelaku ke sungai sesudah dipukul benda tumpul. Jadi, benda-benda yang ditemukan disekitar mayat tak cukup layak dijadikan bukti karena pihak penyidik harus menyusuri sungai yang panjang dan menemukan dengan pasti tempat peristiwa pembunuhan berlangsung.

Lambannya proses dan hasil penyidikan membuat gerah para aktivis. Mereka banyak-banyak mengeluh soal kinerja polisi. Ujung-ujungnya muncul dugaan konspirasi, dugaan pejabat kebal hukum, suap, rekayasa, pengalihan isu, dan sebagainya. Muncul juga keluhan besar-besaran dari Aliansi Judi Mahasiswa Bawah Tanah (AJUM-BT) yang mulai hilang kesabaran memegang taruhannya. “Mas, lamban benar hasil penyidikan, ya. Padahal saya berdoa saya menang taruhan. Soalnya ibu kost sudah mulai mengedip dan pacar sudah keranjingan menu makanan spesial dan film bioskop terbaru…”



***

Pukul 14:13, beberapa hari yang lewat, sebelum Magdalena pergi selamanya…

“Hallo…”

Tut…tut…telepon diseberang ditutup. Tak ada jawaban.

“Hallo!” Magdalena melihat ponselnya. Nomor tak dikenal. Dia mencoba menghubungi balik. Tetapi nomor itu tak lagi diaktifkan. Magdalena tak mau menghabiskan waktu cukup lama untuk menerka siapa yang menelepon itu. Maklum, setelah demonstrasi pertama kali di gelar, Magdalena sudah dibanjiri teror via telepon.

Setelah pulang audiensi pertama itu, tubuh Magdalena sangat lelah. Dia rebahkan kelelahan itu di sofa apotek. Kepalanya sakit dan Magdalena perlu sedikit obat untuk meredakannya. Jam menunjukkan pukul 14: 00. Jam tiga dia harus sampai di rumahnya. Dia sudah kangen pada ibunya. Pelan Magdalena menatap ponselnya, dan tersenyum.

“Hallo, Lena.”
“Ma, gimana sehat?”
“Mama sehat. Kamu sehat, kan? Kapan pulang? Gimana demonstrasinya?”
“Duh, pertanyaannya banyak banget. Lena sehat, Ma. Mm..cuma kepala sakit dikit. Sekarang lagi beli obat di apotek. Sekarang Lena mau pulang ke rumah. Demonstrasi? Wah, masih kusut, Ma…”

“Ya, udah. Cepet ke rumah. Mama lagi masak sop buat kamu…”
“Papa ada, Ma?”
“Belum pulang, tuh.”
“Ya. Daag, Ma…Lena cinta Mama.”
“Mama juga. Mama kangen…”

Magdalena menutup telepon. Senyum merekah dibibirnya. Di luar jendela bis, tampak matahari merumuskan senja. Magdalena berkeringat. Di dalam bis orang berdesak-desakan. Penuh dan tak ada AC.

Setengah jam perjalanan naik bis menuju rumah. Magdalena turun di terminal dan ia butuh dua kilometer lagi berjalan kaki melewati kebun jagung dan pesawahan untuk sampai ke halaman rumahnya. Dia malas naik ojek. Jalannya yang dilewatinya jelek, berbatu-batu. Cuaca mendung dan, seperti sore kemarin, sepertinya hari ini akan turun hujan deras lagi. Magdalena harus segera sampai di rumah. Ia terus berjalan melewati jalur sungai yang cukup lebar, dan bila hujan turun hebat, sungai akan meluap seperti air yang luber di dalam gelas. Lalu, seperti menyentak suara petir. Seperti menghentak suara gelas Mama jatuh dilantai. Hujan turun deras dan Magdalena berlari. Ia gentar. Disebuah tikungan jalan setapak inilah, kecelakaan itu terjadi. Magdalena terpeleset di tanah basah. Tubuhnya bergulingan ke gigir sungai. Sebelum akhirnya jatuh di arus sungai, kepalanya membentur akar pohon yang besar. Akhirnya ia hanyut dan hanyut jauh terbawa arus sungai yang meluap, seperti air yang luber di dalam gelas…

Cipadung, Maret 2007.

*Koordinator Sastra Komunitas Mata Pena (KMP) Bandung. Kini, tengah menyelesaikan Studi di Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung.
Read more!

Barang Antik

Sepeda Tua Aku
Oleh Sukron Abdillah*


SETELAH keluar dari sekolah tingkat dasar (SD), saya melanjutkan ke sebuah Pesantren yang terletak di kota Garut. Jarak dari kampung saya sangat jauh. Maka untuk menghemat biaya saya tinggal di asrama. Pada tingkat pertama, saya agak sedikit betah dengan suasana di pesantren. Ya, banyak teman baru, ilmu baru, dan kamar tidur baru. Apalagi, ketika saya kelas lima SD, pernah kepincut dengan status Kyai.

“Asyik betul ya kalau saya terkenal dan dihormati. Setiap kali bertemu orang, pasti mereka akan terbungkuk-bungkuk menghormati. Terus, saya juga akan diberi pahala oleh Allah. Karena telah menyebarkan ajaran-Nya”. Begitulah alasannya mengapa saya mau melanjutkan pendidikan ke pesantren, tidak ke SMP Negeri. Meskipun pada saat itu nilai di izajah bisa dibilang paling besar diantara teman-teman.

Tak heran jika guru saya yang bernama pak Tatang dan teman-teman sekelas merasa heran. Apalagi pesantren pada saat itu identik dengan para lulusan yang tak berizajah, kolot, dan tradisional. Pokoknya, masa depan yang tidak menjanjikan. Tapi, alhamdulillah, ternyata pesantren saya itu disamping memberikan pelajaran agama, tidak melupakan pelajaran umum. Malahan, setiap santri akan memeroleh tanda kelulusan yang diakreditasi pemerintah. Asyik, juga kan ? Karena saya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Itulah pesantren yang menggodok jiwa dan raga saya hingga seperti sekarang ini. Minimalnya, saya bisa sedikit tahu tentang norma-aturan agama, jadi tidak tergesa-gesa memutuskan suatu perkara. Meskipun karena kelemahan pribadi, saya kerap kali terjebak dengan yang namanya mencaci-maki para pejabat negara.

Kisah ini adalah moment yang tepat untuk menelisik masa lalu saya yang asyik sekaligus menyenangkan. Tepatnya pada saat saya menginjak kelas dua Tsanawiyah (setingkat SMP), karena sering berbuat onar, saya ditarik ke kampung halaman. Tadinya saya merasa gembira karena tidak akan kembali lagi ke pesantren. Ya, akan lebih gembira lagi jika berhenti sekolah.

Namun, tidak demikian dengan ibu saya. Beliau sekuat tenaga setengah banting tulang menyuruh saya untuk terus melanjutkan sekolah di Pesantren Persatuan Islam (PPI) No. 19 Garut.

“Ya, pupus sudah harapanku”. Ujar saya sembari dipendam dalam hati.

Saya pun sedikit berdalih kepadanya: “Bu.., cape ah kalau harus pulang pergi ke pesantren”.

Coba saja bayangkan jarak kampung saya dengan jalan raya yang dilewati angkot saja sekitar 4,5 Km. Busyet! Bisa-bisa betis saya seperti Maradona. Padat-berisi bagaikan tukang becak!

Akhirnya saya mengalah dan sekolah pun mulai berjalan kembali. Selama beberapa hari, saya berangkat ke pesantren berjalan kaki. Karena jarak ke jalan raya jauh, berangkatnya juga sekitar pukul 05 pagi.

Wah, kebayang tidak sih! Kalau harus berjalan kaki saat udara dingin dan matahari belum bersinar? Tapi, asyik juga. Mengapa? Dengan berjalan kaki, saya bisa berlari kencang ketika mengejar bola dilapangan Cimacan pada turnamen sepak bola antar kelas. Bahkan, saya bisa mengenal kawan-kawan dari kampung lain yang sama-sama berjalan kaki. Enak punya teman baru.

Kalau dibandingkan ketika saya di asrama dulu. Karena saya jarang pulang, maka teman yang dikenal juga hanya teman-teman sekelas waktu di SD saja. Atau paling banter teman sekelas dan sekamar di pesantren.

Lama kelamaan, saya juga bosan kalau harus berjalan. Karena semenjak saya didugdag (pulang-pergi) ke pesantren, sering kali masuk terlambat dan absen. Tak disangka-sangka saya pun dibelikan sepeda baru oleh ibu. Sepeda yang harganya sekitar Rp 300 ribu pada tahun 1996 itu dibeli kakak pertama saya dari kenalannya di Bandung .

Kalau saya harus memakai sepeda ke pesantren yang jaraknya puluhan kilo meter, pasti berbahaya. Maka, trik menghemat tenaga saya aplikasikan. Caranya, pada pukul setengah enam pagi saya berangkat dari rumah membonceng teman paling setia, namanya Sutisna. Kebetulan, sejak berumur tujuh tahun ia sering mondok moe (menginap) di rumah saya. Sesampainya di jalan raya, saya pun tidak lagi ketinggalan angkutan umum yang pada waktu itu langkanya minta ampun.

Teman saya Sutisna pun kembali ke kampung sembari membawa sepeda. Oh iya.., dia tidak melanjutkan sekolahnya. Entah apa alasannya, saya juga tidak tahu dan tidak pernah menanyakannya sampai sekarang. Yang jelas tanpa kehadiran dia, sekarang saya tidak akan menjadi seperti saat ini. Tidak akan bisa menulis. Tidak akan bisa mengeksplorasi ide-gagasan. Dan pasti dong tidak akan suka membaca buku. Boleh jadi sekarang ini saya sedang menggembalakan kerbau atau kambing. Hehehe

Apalagi ketika semangat belajar saya di pesantren turun karena kecapean berjalan sekitar 4,5 Km. Sepeda baru dan dirinya adalah penghantar meraih cita-cita. Cita-cita menjadi seorang Kyai? Bukan. Bukan itu. Tetapi cita-cita untuk menjadi manusia yang berguna bagi bangsa, negara dan agama.

Kurang lebih selama enam bulan saya bersepeda ria berangkat menuntut ilmu ke pesantren. Setelah itu, saya pun kembali lagi ke asrama karena keliaran hidup saya sudah mulai melunak. Kembali lagi ke asrama adalah alasan tepat dari ibu saya sehingga saya bisa lebih tenang mempelajari ilmu yang disajikan. Bisa menghafal hadits, al-quran, dan pelajaran-pelajaran yang lainnya.

Sekarang sebelas tahun berlalu, sepeda itu pun seakan tidak baru lagi. Bongkahan besinya terhempas di gudang belakang rumah saya. Namun, tidak akan pernah dijual. Mudah-mudahan besi tua ini mengingatkan saya akan pengorbanan seorang teman, ibu, dan guru ngaji (ustadz) di pesantren.

Tanpa menaiki gunung, ternyata kita tidak akan pernah sampai ke puncak. Kita hanya bisa melongo terjebak pada keindahan khayalan puncak gunung tersebut. Tanpa belajar di sekolah kehidupan, kita tidak akan menjadi manusia arif dan bijaksana. Wallahu’alam

*Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhamadiyyah (IMM) Bandung. Kini, tinggal di Garut.
Read more!

Kata

Wednesday, July 4, 2007

Dunia Tanpa Kata
Oleh Shinta

Bagaimana kamu akan berkata selamat tinggal
Kepada seseorang yang tidak pernah kamu miliki?
Kenapa tetes airmata jatuh demi seseorang
Yang tak pernah menjadi kepunyaanmu?
Kenapa kamu mencintai seseorang
yang cintanya tak pernah untukmu?

Bukankah letak kebahagiaan itu ada pada diri kita?
yang gagah, yang lemah, yang kuat, yang tak berdaya...
apakah telah kamu temukan apa yang menjadi letak dari keresahanmu selama ini?
kukira, dengan semakin bertambahnya usiaku, aku kan bijaksana dan teringat kealpaan diri.

tapi ternyata aku salah.
bukan karena bertambahnya umur kita akan bijak, tetapi bagaimana cara kita menyikapi hidup.
tidak ada yang benar atau yang salah.
karena hakikat hidup, adalah proses untuk hidup itu sendiri.
"hidup" bagi diri sendiri dan orang lain....

Aku tak ingin berkata cinta

sebab aku ingin memberi cinta

sebab cinta yang berkata adalah

bukan cinta yang sebenarnya

dan cinta yang terbukti adalah

cinta yang sejati....

One day... if i could fight against the world, i will take you in my heart and let them know that i really wanna you to be the last one i ever had..

*Aktivis JarIK Bandung dan kuliah di jurusan Sastra Prancis Universitas Padjadjaran (UNpad) Bandung
Read more!

Cerpen

Wednesday, June 20, 2007

Tuhan Serumah Dengan Anjing Kurap
Cerpen Endang Suhendang

Akhir-akir ini aku semakin geram dengannya. Setiap kali aku melihatnya aku bagaikan berhadapan dengan anjing kurap yang suka menjilat-jilat dan melahap makanan pada kerajang sampang juga kerap menyolong daging dari "dapur" ibuku. Sejak pertama melihatnya aku sudah menemukan gelagat yang tidak biasa dari orang ini, aku bisa menganggap begitu dari caranya berbicara dan juga dari sikapnya. Walaupun ucapan dan sikap belum mencerminkan sifat baik atau buruk secara keseluruhan.

Dia memang bukan seorang mahasiswa sepertiku, jadi bisa dimaklumi kalau kelakuannya sangat liar dan pikirannya sangat polos. Tapi setidaknya kalau dia orang yang tau tidak tau tidak tau dirinya, dia bisa belajar dan mencontoh sikap dari aku. karena aku juga mencontoh orang lain. Karena hidup ini adalah rangkaian contoh-mencontoh dari orang lain.

Sehari-hari dia bekerja sebagai buruh pada sebuah pabrik kerupuk yang pembuatannya dirumah, Dengan gaji lima puluh ribu seminggu. Uang tersebut tidak dipotong makan dan rokok, karena makan dan rokok dikasih oleh majikannya. Bisa dibayangkan jika uang tersebut pada zaman sekarang pada tahun 2007 yang hidup dikota seperti Banadung ini harus bisa untuk mencukupi berbagai kebutuhan juga beberapa keinginan. seperti makan sehari-hari, sewa kontrakan, jalan-jalan, nonton dan teraktir pacar kalau punya atau setiap malam minggu ke saritem seperti orang pasar juga orang sasar. dan keinginan untuk sedikit diberikan pada emaknya dikampung. Tentunya jika ingat hal ini aku kasihan padanya. Walaupun hidupku tidak jauh berbeda dengannya.

Tentunya pertimbangan tinggal dimesjid lebih dikarenakan karena pertimbangan ekonomi, bukan karena ingin mendekatkan diri pada Tuhan. Karena konon mesjid merupakan rumah Tuhan. Aku juga seperti itu. Aku pikir dia tidak sadar, ngorok dimesjid sampai matahari berangkat satu tumabak ke barat tanpa shalat subuh, fasilitas listrik juga air yang jika dia ngontrak kamar bisa dipungut bayaran yang beda dengan sewa kamar. Karena di Bandung ini tidak ada yang geratis kecuali kentut dan aparat yang suka naik angkutan umum. Itu semua tanpa di bayar? Dia tidak sadar dia telah menggunakan uang rakyat- uang umat.

Hari berganti minggu dan sampai sekarang sudah lebih dari lima bulan dia "I'tikaf" di mesjid bersamaku. Sebenarnya aku sedikit bingung menghadapi tingkahnya yang membatu. Berkali-kali kuperingatkan, dia tidak pernah membantah pun tak pernah menurut. Dia orangnya polos, jujur dan sangking jujurnya kadang menjadi dungu dan sifatnya yang paling membuatku ngedumel yaitu sifat "tau" dirinya.

Dengan tanpa beban dan risih sedikitpun tiap hari dia bangun jam tujuh pagi, itupun dengan susah payah dibangunkan teman kerjanya yang tidak tidur dimasjid. Awalnya aku selalu membangunkannya pada saat adzan subuh dikumandangkan, lama kelamaan aku bosan, karena fikirku untuk usia 20 tahun seperti dia tidak wajar untuk shalat saja harus dipaksa-paksa. Tanpa adanya kesadaran. mungkin kalau usianya masih 7 tahun aku masih bisa memakluminya. Sekarang aku tidak pernah membangunkannya lagi. Karenanya dia tidak pernah shalat subuh apalagi berjamaah bersamaku. Dan tanpa merasa ada beban dan malu setidaknya, apalagi berfikir tentang dosa karena itu terlalu jauh. Dia menikmati tidurnya sampai menjelang waktu shalat dhuha.

Secara pribadi itu urusan dia, dan aku tidak berhak ikut campur. Karena itu masalah dia dengan Tuhannya. Yang lebih membuat otakku sediki stress yaitu sikap acuhnya dengan "hotel" gratisnya ini. tempatnya menginap. Dia tak pernah peduli dengan sampah yang menghiasi halaman mesjid dan debu yang membuat mesjid seperti museum benda-benda purbakala. Dia tak pernah peduli selepas magrib aku kerepotan menghadapi anak-anak yang sepereti bebek-bebek. Aku sebenarnya tidak menjadi beban jika harus memberesihkannya sendiri. Seperti sekarang ini. hanya jika memang dia capek karena bekerja dan tidak sempet membantuku beres-beres. kenapa dia tidak sasadu kepadaku dan ngomong terus terang. Mungkin aku tidak akan menganggap dia orang yang "tau" diri. Tidak seperti sekarang aku menganggap dia seperti anjing kurap, yang serumah dengan Tuhan. Yang "tau" diriannya. Karena kalau aku juga menuruti kecapekan, aku juga sama sehari-hari kuliah sampe sore ditambah tugas dari makhluk yang baru masuk sudah sibuk dengan memberikan tugas. Tapi aku tidak bisa begitu saja itu dijadikan alasan untuk bersikap bak pahlawan yang sudah berjuang di Aceh menumpas Gam. Karena aku tau aku harus tidak "tau" diri.

Memang, masyarakat sepertinya tidak mau tau dan peduli dengan kodisi mesjid karena memang mereka tidak pernah kemesjid kecuali kadang-kadang pada hari jum'at dan hari I'dul fitri juga I'dul Adha. Tapi aku meresa dibalik ketidakmau tauan masyarakat tersimpan beban moral yang begitu berat untuk dipikul. Ada amanat yang secara tidak langsung dibebankan pada diri penghuni "asrama" ini. Yaitu kepercayaan untuk menjaga kebersihan juga sekedar mengajar iqra anak-anak mereka. Kedua-duanya alhamdulillah temanku ini belum pernah memikirkannya apalagi mengerjakannya.

***
Untuk mengobati kekesalan hati yang susah digambarkan lagi, aku suka mengobti diri dengan menganggap bahwa mungkin semua orang didunia ini lebih banyak yang "tau" dirinya dari pada orang yang tau tidak tau diri. Aku melihat pada diri teman baruku ini sama seperti melihat para anggota dewan dan para pejabat yang lebih banyak "tau" dirinya dapi pada tau tidak tau dirinya. Anggota dewan dan pejabat sekarang juga mungkin tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, tidak sadar dan tau bahwa ia dihidupi oleh rakyat, bukan oleh SBY juga bukan oleh Tuhan. Tapi oleh rakyat dan rakyat. Walaupun rakyat tidak sadar bahwa mereka telah memberi makan belatung-belatung busuk yang biasa mengerumuni anjing kurap yang telah mati membusuk karena kekenyangan melahap tulang dan menyolong daging dari "dapur" ibuku. Kalau mereka tau mereka telah menggaji anjing kurap, mereka tentu lebih suka uangnya diberikan pada gembel yang diseret dan dingkut Satpol PP. dari pada diberikan pada anjing kurap yang menjijikan. Dan Aku mengetahuinya. Karena aku tau dari kelakuan temanku yang sama dengan kelakuan bajingan-bajingan itu, yang berbaju besi dan berkepala batu juga berhati iblis. Itulah kelakuan kau dan dia juga mereka.

Berkali kali aku katakana pada temanku, bahwa aku bukan orang yang baik dalam kesendirianku. Tapi aku berusaha menyembunyikan sifat busukku didepan manusia, didepan orang-orang. Juga didepan kau. Aku bukan munafik, tapi bukankah hati itu urusannya dengan Tuhan bukan urusan manusia, bukan urusan orang-orang. Juga bukan urusan kau?. Aku lebih suka sikap-sikap bukan sifat-sifat dari seorang munafik. Dari pada tidak munafik sama sekali. paling tidak dia menghargai dan memberikan contoh yang baik walaupun ucapannya tidak sesuai oleh hatinya. Itu tak apa karena hati bukan urusan kita bukan urusan manusia. Dari pada sudah mempunyai sikap dan sifat yang tidak baik lantas memperlihatkan dan menganggapnya bagai sebagai sikap dan sifat yang wajar. Dan yang paling mengkhawatirkan kau tidak sadar bahwa sikap dan sifat kau selama ini kau anggap benar.

Terhadap pendapat dan kritikanku ini, sepertinya dia kurang mengerti. karena memang dia tidak sekolah sampai tingkat lanjutan apalagi sampai perguruan tinggi. Jadi tidak mengerti analogi dan dan sindiran. Sama juga seperti mereka, para anggota dewan para wakil aku. Si anjing kurap. walaupun aku tak pernah memilih mereka. Mereka tidak sekolah, walaupun punya ijazah sampai perguruan tinggi, itu hasil membeli dengan uang hasil malingnya itu. Jadi mana mungkin dia mengerti akan sifat tau tidak tau dirinya. Mereka terpilih bukan berarti manusia pilihan. Karena mereka bukan manusia tapi anjing kurap. Kalau manusia tentunya mereka tau akan tidak tau dirinya. Kalau ada yang ngasih tau dianggap interpensi dan dianggap hal sia-sia jika ditanggapi. Mereka bisa duduk di Wastukencana dan menginap di Hotel Indonesia karena mereka pandai membohong anak-anak dan ibu-ibu dengan rayuan busuknya. Mungkin untuk hal ini lagi–lagi aku harus memaklumi anggota dewan seperti ini. Dan sedikit terobati karena ada bebrapa dari mereka para anjing kurap yang manusia dan seperti manusia Seperti bagaimana aku harus memaklumi temanku itu. Karena kepala batunya.
Dalam hati kadang aku berfikir, kenapa aku harus repot memikirkan dan memusingkan kelakuan temanku yang makin ngaco. Entoh masyarakat disekitar masjidku saja tidak pusing dan tidak mau tau. Kalaupun mereka tau tidak sampai memusingkan kepala mereka, tidak seperti aku kadang-kadang masalah ini sampai membuat aku susah tidur dan tidak enak makan. Kalau yang terakhir mungkin karena tidak ada yang bisa dimakan.

Tapi keinginan acuh tak acuh itu hilang kembali, ketika aku ingat pasilitas yang digunakan dan makanan yang dimakan temanku itu juga anggota dewan itu adalah pasilitas dan makanan dari "dapur" ibuku yang dipersiapkan untuk aku, untuk anak-anaku dan untuk cucu-cucuku dikemudian hari. Jika anjing kurap ini tetap dibiarkan aku khawatir keturunanku yang makan didapur ibuku mereka akan mengemis dan jadi gelandangan di"dapur" yang konon banyak makanannya. Karena makanan telah habis dicolong anjing kurap itu yang tidak kenal puas dan kenyang. Karena itu, dia lupa kapan waktu bangun untuk shalat dan kapan waktu sidang. Karena setelah perut kenyang anjing kurap itu bermesraan dengan model dongdot yang siap melayani siapa saja baik manusia ataupun binatang. Seperti anjing kurap itu, yang penting satu hal, dia harus berperut buncit yang kelak setelah puas "dikencingi" anjing kurap itu. Perutnya akan dibedel dan keluarlah lembaran merah dan butiran intan permata hasil jarahan dari "dapur" ibuku.

Aku kasih tau sekarang, jika kau melihat temanku juga dewan itu dimana saja dia berada kejar dan seretlah dia. Karena temanku telah ku lempar dia kepadang ilalang yang jauh dan bisu kelu. Yang mungkin suatu saat datang kembali kesekitar rumah anda. Pecahkanlah perutnya dan Keluarkanlah lembaran merah dan butiran permata yang ada didalamnya. Dan pecahkanlah kepalanya dengan ketapel ataupun dinamit yang biasa digunakan untuk memecahkan batu, karena sama kepalanya juga batu. dan lemparkanlah mayatnya kelaut, agar bangkainya dimakan paus dan tidak dikerumuni oleh belatung-belatung tengik yang doyan mengerumini setiap bangkai. Entah bangkai apapun yang penting dia bisa menghabiskan sisa daging dan daleman untuk disisakan tulangnya saja untuk disemayamkan dimakam pahlawan yang kelak akan diabadikan sebagai pahlawan anjing kurap yang berjuang untuk belatung-belatung tengik.

Bandung, 12 februari 2007

Read more!

Sajak (2)

Monday, June 18, 2007

Sajak-Sajak TEDI TAUFIQRAHMAN

Akhirku | Ini Hidup | Kidung Lirih | Gunung Kemusykilan | Kosong | Lolongan Anak Muda | Munafik | Sabtu Pagi | Sajak Belajar Vandal | Sepongkah Nafsu | Tak Henti Selalau.


Akhirku


Tempatku memuja
Segala rasa tercurah
Bagi semua pendosa
Dengan jalan yang di kehendaki

Tempatku berserah
Kembali pada pasrah
Tuhanku
Kuasa akan darahku
Merambah pada semua
Akankah sintuh qalbu
Sampai jadi abu


25 Januari 2006


Ini hidup


Ini hidup kawan
Bukan sinteron yang sering kau tonotn
Selalu kau menjadi arjuna
Berakhir bahagia …hah
Nonsens
Hidupmu adalah pergulatan
Tanpa upaya tak akan kau berjaya
Lihatlah alam sekitar
Makhluk mengejek tapi kau merengek
Mau jadi apa
Tatkala fenomena tak relevan dengan idealita
Jangan kau terhenyak
Karena sudah biasa
Harusnya kau katakan pada mereka
Inilah ironi dunia tak bisa tuk mengelak



Kidung Lirih


Telah sering ku senandungkan
Syair pengaduan
Degan segumpal pengharapan
Keulayangkan
Namun dapat terhiyng
Kini luka benar tubuhku
Tercabik dikoyak oleh realita
Kenyataan itu memang pahit
Mendesak, menuntut bahkan mendepakku
Susah memang
Naik banding ke alam kosmologi
Tak berawal tak kunjung berhenti
Tak nyata dalam realita
Namun pasti dalam fenomena
Kidung lirih kusenandungkan.



Gunungan Kemusykilan


Hutan rimba yang menggana
Lautan tak terawasi
Kemegahan tak terhingga
Keagungan tak berbatas
Namun apakah sudi
Turunkan keajaiban
Hanya setitik kan mengubah
Seluruh hidup umat manusia
Disini diriku mengemis
Padamu… hanya padamu
Sudi layarkan kemusthilan
Diantara akal realita fenomena
Biarkan terhenyak
Dengan satu keajaiban di realita zaman



Kosong


Tak ada yang terlihat
Begitu pula tak terjamah
Semua terasa hampa
Lemah termamah…
Hanya meragu pada ketika
Di saat pada
Aku merasa

Taman UIN SGD, 01 Februari 2006


Lolongan Anak Muda


Tetesan air mata darah
Mengalir deras di pipi
Menjadi orang yang tak berarti
Tubuh renta membanting tulang

Hanya untuk sekeping uang
Duduk termangu seperti orang dungu
Menangis tersedu
Terus dan tiada henti mengadu
Tak bisa menolong

Hanya bisa menggonggong dan melolong
Harap mereka tahu
Tak ada yang bisa kubantu
Meringankan beban menyimpan perih
Suatu hari nanti hari akan tiba
Saat aku berjaya sampai akhir usia


Munafik


Kenapa tak langsung saja kau sebut
anjing
Tak perlu ditutup-tutupi dengan
gonjang-ganjing
Bahkan argumentasi ilmiah berbau pesing

Kenapa tak langsung saja kau hujat
anjing
Tak perlu dimanis-manis dengan
teori-teori batang penis
Daripada panjang-panjang tak dimengerti
Lebih baik pendek berarti
Misalnya
Testis.

Kenapa tak langsung saja kau caci
anjing
Tak perlu dibungkus ayat-ayat suci
Tentang ajaran ramah dan sejarah para nabi
Semua mejadi terkesan recehan
Dan bau tai babi

Kenapa tak langsung jawab
Anjing
Daripada munafik
Seperti gundik kelihatan cantik
Padahal rujit

Kenapa tak langsung saja kau berubah
jadi anjing
Punya, ekor, berliur memiliki taring
Biar aku gampang memilah

Yang mana anjing
Yang mana babi
Yang mana bagong
Yang mana manusia
Yang mana maha

Ternyata kita lebih suka yang sedap-sedap
Dimuka dan dikhianati
Daripada mendengar perih dan sakit
Setidaknya ada harap
Meski jiwa kita kronis kurapan

Ternyata mental kita terganggu
Jiwa kita busuk



Sabtu Pagi


Tak ada yang dapat ku tulis
Selain menulis namamu
Tak ada yang dapat ku ucap
Selain mengucap menyayangimu
Tak ada yang dapat ku lihat
Selain melihat bayang wajahmu
Tak ada yang bisa mengalahkanmu
Sampai senyummu rasuk dalam sukmaku

04 Februari 2006

Sajak Belajar Vandal


Ada agama sedang menangis di pojok rumah
Menjerit melihat para penganut mencacah
Ajaran doktrin dan dogma dengan pongah

Ada agama sedang melamun melihat
Nasib bangsa yang dipenuhi dengan para pengkhianat
Penjilat mengerat ayat-ayat suci dengan lahap

Ada agama sedang melayang-layang mengabut di langit

Ada agama sedang meringkuk di balik jeruji
Penjara habis dihantam dibekuk dipukuli
Oleh para aparat tentara dan polisi

Agama tak punya lagi identitas
Tak memiliki wajah
Bisa dijual belikan hanya untuk segunduk uang kertas
Menjadi mantra sumpah serapah
Mengusir hantu dedemit kuntilanak beserta keturunannya

Agama bisa ditemukan di mall swalayan bahkan di pelacuran
Menjadi bahan legitimasi segala hal
Mengobral fatwa halal haram
Dari makanan, kondom sampai dildo
Mengumbar nafsu dan libido

Kekuasaan ketamakan


Sepongkah Nafsu


Tatkala tangan dunia terngangah
Tatkala kepala dunia terperangah
Bermandikan keluh kesah
Berselimutkan gelisah

Tak berdaya
Kemudian terlambat memang
Menggantungkan tanpa gantungan
Mengendarai tanpa kendaraan
Semua umat berkata bodoh tolol

Memang konyol
Kasat mata tak terlihat
Sembilu jiwa menunggu
Hal yang tak terpadu. Tak menyatu
Bodoh memang tapi kupercaya
Secuil keajaiban 'kan menolongku


Tak Henti Selalu


Setiap temu denganmu
Senyap sangsi hilang berlalu
Pertanda gambaran hatiku
Telah melukis mukamu
Dalam taman jiwaku
……?……
Tujuku tak kan henti meski termakan waktu
Selalu aku mendambamu
Setiap merindumu
Hanya kata tertulis untukmu
Pada malam hanya bisa mengadu
Kapan bersatu…


Camp The End, 29 Januari 2006
Read more!

Sajak

Friday, June 15, 2007

Sajak-Sajak PRADEWI TRI CHATAMI

Anak Kecil Itu | Cinta | Indonesia | Jalang |
Just For My Self | Mendua | Selamat Datang Di Kampus-Kampusan | Wejangan Kartinian | Yang Kumau | Ziarah.



Anak Kecil Itu


Anak kecil itu masih disana
Mengais-ngais sampah,
berharap masih ada sekedar remah
untuk membungkam cacing di perutnya

Anak kecil itu masih disana
bernyanyi lantang
pasang muka yang bikin kasian
tapi ia masih tetap terabaikan

Anak kecil itu masih disana
terlelap dalam mimpi yang tak begitu indah,
di antara riak kehidupan malam yang tak ramah

Anak kecil itu masih disana
di tengah gang kecil di sudut kota
tangan kecilnya megang lem aibon
sesekali ia ketawa,
sesekali ia bengong,
sesekali ia meracau tentang ibu
yang mayat bugilnya ketemu di pinggir kali

Anak kecil itu masih disana
sekarang, dan entah sampai kapan...

Sept 12, 2k3

Cinta


Kubilang: Aku cinta kamu! Cukup??
Kuulang:
Aku cinta kamu.
Seperti cinta perempuan pada sunyi di tepi gemuruh resah
Cinta yang mengaji ayatayat gelisah pada senyap duapertiga malam.
Tak terbaca oleh dua bola mata,
Tak terkata oleh dua garis bibir,
Diam yang setia bercerita…

Aku cinta kamu,
Seperti cinta Hawa pada Adam.
Cinta yang membawa pada kejatuhan
Mengubah Taman Eden menjadi taman bermain
Mengubah sebutir Apel memjadi secawan Anggur
Mabuk, menerawangi setiap batas nalar
Sepenuh sadar…

Aku cinta kamu. Kawan. Kasih.
Dengan iman pejalan ketakpastian
Melewati setiap remang gusar diseling igau gurau
Menertawai nestapa, terbahak pada kegetiran rindu yang tak terjamah ucap…

2006


Indonesia


Berjalan di tengah remang fajar
Semburat jelaga maha kelam
Liat! Ada babi hutan naik Volvo,
dan anjing kudisan naik BMW!
Cecurut-cecurut pesta kembang api,
ngejarah nurani.

Selamat datang di labirin maha legam!
Disini, kita akan berputar di area
kemiskinan, kejahatan, basa-basi,
dan perkosaan kemanusiaan maha dahsyat!

Di tempat ini, jalan sesak
sama rambu seribu jargon!
Disini, mentari enggan terbit,
malah lari terbirit-birit!

May 20,2002


Jalang


Aku adalah perempuan jalang
Begitu kata konstruksi sosial
Perempuan jalang!
Seru moralitas konvensional
Aku memang liar,

Ingin bebas menolak dirantai
Tapi jika karena itu kalian pikir aku binal,
Maka siapa kalian sebut diri kalian
Saat kalian melacurkan apa saja
Demi belenggu yang kalian sebut
Tatanan norma

Siapa kalian panggil satu sama lain
Saat identitas yang kalian punya
Hanya merkmerk keluaran pasar besar
Yang kalian sebut sejati kehidupan beradab?
Norma kalian memaksa manusia
Melata di ujung kakinya

Untuk menjilat pemegang rantai
Peradaban kalian membuat manusia
Lupa mereka lahir merdeka

-2006-


Just For My Self...


Kemana saja kau selama ini?
Tanpa nurani, kau melayang mirip kunti,
tak lagi sebagai manusia yang membumi.
Ikuti palsunya mimpi tidur siang,
hingga hati buta tak jua tercerahkan.

Kelewat sibuk sama gosip remeh,
dan puas cuma sama omong kosong istilah-
istilah intelektual, sok ilmiah.
Cintamu juga tak mengarah, tak manusiawi.
Kau lebih busuk dari limbah!
Lebih iblis dari setan, parasit!

oh,...aku!


Mendua

-bwt shen-

Mendua, diantara cinta-cinta
yang tersakiti
dan menjamah bayangmu pun
menjadi lebih jadah dari dosa!
Tanganmu menghamba,
sedang ia hanya bertekuk lutut..
bulir-bulir airmata
basahi serpih hati.

April 30, 2k6



Selamat Datang Di Kampus-Kampusan


selamat datang di kampus-kampusan,
institut-institutan yang kini berubah jadi
universitas-universitasan.
Sebuah perubahan-perubahanan
Termasuk tambahan-tambahanan
Fakultas-fakultasan
Yang dibumbui
Pemilihan-pemilihanan
Dekan-dekanan

Ah, ini memang tempat-tempatan
Main-mainan
Mahasiswa-mahasiswaan
Tempat belajar-belajaran
Ilmu-ilmuan
Tempat teriakan-teriakanan
Orang-orangan
Yang gila-gilaan

2006


Wejangan Kartinian


Perempuan jaman sekarang, kata ibuku
Tak tahu terima kasih sama Kartini.
Dulu dia merjuangin pendidikan,
Bukan sibuk bersolek buat lomba kebayaan'
(waktu itu ada kontes kebaya di tv)

Perempuan jaman sekarang, kata ibuku
Tak tahu terima kasih sama Kartini.
Dulu dia merjuangin harkat martabat wanita,
Bukan maksain goyang erotis mancing birahi'
(dia lagi nonton acara gosip tentang inul)

Perempuan jaman sekarang, kata ibuku, lirih.
Tak tahu terima kasih sama Kartini.
Dulu dia nyelipin refleksi religiusitas islam
Yang membela perempuan,
Makanya dia ngutuk abis poligami,
Karena dia juga ngalamin
Langsung, ataupun engga.
Bukannya terbuai sama singkatnya asmara
Dan terseret cinta yang mendua
Dengan iming-iming surga.'
(ngomentarin isu poligami)

Ah..Ibu, kalo gitu,
Kayaknya sekarang Kartini jengah
Gerah sendirian disana di alam barzah ,
Nyari cara buat ngerangsek dari kuburnya!

April21, 2k6


Yang Kumau


Aku ingin hidup!
Aku ingin terbang!
Jika jatuh, aku ingin jatuh dari langit ketujuh
Aku ingin terbang melayang
sebelum mencium tanah dan hancur!
Aku ingin ajari orang-orang tuk bermimpi,
dan menjalani hidup demi mimpi
Aku ingin ajari orang untuk berani
wujudkan angan...
cintai kehidupan.
Aku ingin ajari orang-orang
mempersembahkan kehidupan,
dan bahagia...


Ziarah


Jalan itu memang tak lurus, sahabat
Kadang kita menemukan tikungan tajam tak terduga
kadang ada simpangan-simpangan yang membuat kita bingung,

Atau lupa pada tujuan kita,
Karena kita tertarik untuk membeli rokok
Dan menyeruput segelas kopi
Di kedai seberang jalan.
Hidup tak jauh dari yang demikian,
Dan lebih sering ia menawarkan kembang gula
Warnawarni agar kita sejenak berpaling
Tak mencari lagi harta karun kita.
Padahal ayah ibu selalu berpesan
Bahwa kita berpacu dengan waktu,
Ia yang takkan kembali setelah sekali ia jadi
Masalalu.

Tapi surga di akhirat sana penuh dengan pelanggar
Rambu-rambu jalan dunia pada masanya
Disesaki dengan halhal yang kerap buat kita
Disebut wong edan, Dipenuhi sekumpulan orang yang menggilakan dirinya
Demi harta yang disebut kebenaran dan pengetahuan,
Bukankah itu tempat dari Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, dan Maryam?

Bukankah Itu pula rumah Adam dan Hawa
Yang telah memakan buah terlarang?
Ah, sobat, bukankah yang benar selalu saja salah?
Dan kita hanyalah pejalan, sekali waktu kita tamasya
Di taman cinta, Dan saat yang lain ziarah ke pemakaman kemanusiaan
Read more!